IURAN BPJS KESEHATAN NAIK LAGI

Dikutip dari artikel yang telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tak Mampu Bayar Iuran BPJS, Apakah Solusinya Hanya Turun Kelas?”, https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/16/183100265/tak-mampu-bayar-iuran-bpjs-apakah-solusinya-hanya-turun-kelas-.
Penulis : Nur Fitriatus Shalihah
Editor : Sari Hardiyanto

Keputusan Presiden Jokowi yang menaikkan iuran BPJS Kesehatan di tengah pandemi menuai beragam reaksi publik.  Berdasarkan Perpres No. 64 Tahun 2020, kenaikan iuran BPJS Kesehatan tersebut akan mulai berlaku pada 1 juli mendatang untuk kelas I dan kelas II mandiri.

Berikut perincian kenaikan iuran tersebut:

Kelas 1 Rp 150.000

Kelas 2 Rp 100.000

Kelas 3 Rp 25.500 (Rp 42.000 dikurangi subsidi pemerintah Rp 16.500)

Kenaikan pada iuran kelas I diketahui hampir 100 persen. Sebelumnya, pada April-Juni 2020 peserta kelas I hanya membayar Rp 80.000. Artinya untuk Kelas I naik Rp 70.000. Sementara itu untuk peserta kelas II sebelumnya hanya membayar Rp 51.000. Jadi naiknya Rp 49.000.

Gue mau menyampaikan pendapat gue terkait kenaikan ini. Pertama, gue setuju aja dengan kenaikan kelas 1 dan 2 tersebut karena nilainya tidak terlalu signifikan jika dibanding dengan manfaat yang akan diterima oleh peserta.

Yang jadi permasalahan di sini apa? Menurut artikel di Kompas di atas, jika memang peserta yang saat ini sedang berada di kelas 1 dan 2 merasa keberatan, kenapa tidak turun ke Kelas 3 yang tidak mengalami kenaikan karena sudah disubsidi pemerintah.

Seperti yang kita ketahui, BPJS Kesehatan sudah terlalu merugi dari beberapa tahun belakangan. Memang gue ga terlalu ngikutin perkembangannya. Tapi melihat nilai premi dan manfaat, gue dengan sadar menyatakan iuran/premi yang ada saat ini memang tidak cukup untuk menambah kas yang dimiliki oleh BPJS Kesehatan.

Coba cek nilai premi untuk asuransi kesehatan di luar sana, apakah ada yang memiliki benefit seperti BPJS Kesehatan dan preminya rendah. Jika ada, ajak-ajak saya ikut asuransi tersebut. Karena setahu saya, tidak ada satupun perusahaan asuransi yang mau rugi antara perbandingan nilai premi kepada manfaatnya.

Saya masih ingat di awal terbentuknya BPJS Kesehatan, dimana beberapa pihak asuransi ingin bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dengan program yang namanya coordination of benefit, yang kalau ga salah dengan mengikuti program tersebut, kita tidak perlu ribet-ribet ke faskes satu tapi bisa langsung ke rumah sakit jika sudah mengikuti program tersebut. Mungkin karena pihak asuransi merasa dirugikan, program tersebut hilang ditelan bumi.

Gue sih menerima nilai iuran naik tapi harus ditekankan, untuk pelayanan di tiap kelas tidak ada perbedaan. Jangan gara-gara kita ga mampu untuk bayar kelas 1, lalu turun ke kelas 2 ataupun ke kelas 3, pelayanan jangan berubah di setiap faskes ataupun (yang paling parah) di rumah sakit nantinya. Kita berharap pelayanan setiap kelas sama rata hanya dibedakan antara jenis kamarnya saja. Obat, Alat Kesehatan, Fasilitas dan Pelayanannya jangan pernah dibedakan karena kita semua sama warga Indonesia.

Jangan seperti saat kita ke sebuah tempat makan, karena pakaian tidak bagus kita tidak dilayani sepenuh hati dan diberikan pelayanan yang buruk sehingga membuat kita tidak mau kembali ke tempat tersebut.

Premi naik boleh, tapi pelayanan ditingkatkan dan tidak ada perbedaan layanan di setiap kelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *