Menikmati Malam di Garden by the Bay (Day 3 Backpack)

Selesai sholat subuh di Larkin, kami segera memesan Grab menuju Johor Bahru Checkpoint (JB CIQ). Tidak terlalu mahal biaya yang kami keluarkan untuk perjalanan menuju tempat tersebut, sekitar Rp. 35,000. Setelah 10 menit perjalanan kami sampai di JB CIQ. Naik terus ke lantai atas mengikuti tanda arah menuju Woodlands (yang ternyata ini adalah imigrasi masuk Singapura). Setelah agak jauh berjalan, akhirnya kami masuk ke bagian imigrasi Malaysia untuk cap keluar dari Johor Bahru.

Menuju Singapura

Setelah proses cap paspor selesai, kami mengarah ke basement tempat menunggu bis menuju Singapura. Antrian mengular pagi ini, dimana banyak orang yang ingin menuju Singapura. Kami (gue beserta istri) bersyukur diberi kemudahan karena menggendong anak diminta langsung maju oleh petugas tanpa perlu antri dan langsung membayar tiket kepada petugas yang seharusnya dibayarkan saat masuk ke dalam bis.

Ada kejadian menarik saat kami meletakkan tas di bagasi atas, tas yang gue bawa tidak muat untuk dimasukkan. Kondektur geleng-geleng, sambil mempersilahkan gue untuk memakai kursi yang di sebelah sebagai tempat menaruh tas. Mungkin dia kasihan sama gue yang bawa tas berat sambil membawa anak.

Penampakan Tas yang kami bawa

Bis yang kami naiki ternyata bebas saja, karena akan antri bis lagi di Woodlands. Awalnya kami naik bis yang ke Bugis, tapi tujuan kami menuju Kranji, niatnya sih biar bisa langsung naik MRT menuju hotel tempat deri menginap.

Dari JB CIQ menuju Woodlands banyak yang jalan kaki atau naik scotter karena jaraknya yang berdekatan. Dan ternyata jarak Woodlands ke Kranji juga tidak terlalu jauh. Kalau belum punya anak dan cuma pergi berdua, mungkin gue udah memutuskan jalan kaki sama istri.

Sesampai di Kranji, istri membeli roti untuk anak-anak dan si Deri membeli paket internet agar bisa menggunakan Maps di perjalanan. Kami membeli kartu Eazycard dengan harga SGD 12 (isinya cuma SGD 7)/kartu untuk digunakan dalam perjalanan ini. Sebenarnya kalau membeli Tourist Card lebih simple sih, tapi karena kartu eazy ini bisa digunakan sampai 5 tahun makanya gue lebih memilih Eazycard (siapa tahu bisa pergi kembali ke Singapura).

Penampakan Eazylink Card

Saat anak-anak minta minum dan kami kasih, kami ditegur oleh petugas. Dan mereka menyarankan kami untuk menjauh dari CCTV kalau ingin melanjutkan minum dan makan anak-anak. Di sini kami baru tahu kalau di peron stasiun MRT Singapura tidak diperbolehkan makan atau minum (awalnya cuma tahu kalau di MRT yang tidak diperbolehkan -maklum udik-).

Setelah menaruh tas di hotel Deri di daerah Lavender, kami langsung menuju Harbourfront karena berencana untuk melihat bagian luar Universal Studio. Ya, kami hanya sampai luar tidak berencana untuk masuk. Maklum, keuangan menipis dan sepertinya untuk anak di bawah 5 tahun belum saatnya di bawa masuk.

Setelah mengisi perut dengan penuh di Harbourfront Centre, kami menuju ke stasiun Cablecar menuju Sentosa Island. Terhenyak melihat harga yang terpampang di monitor, gue langsung berinisiatif melihat aplikasi traveloka. Beruntung dapat harga jauh lebih murah dan ada potongan promo walau hanya sedikit. Jadilah, kami menaiki Cablecar tersebut.

Turun di stasiun pertama (Sentosa Station), sempat tergoda untuk mencoba beberapa wahana, tapi istri mengingatkan kepada isi kantong yang memang harus diwaspadai agar tidak langsung bocor. Akhirnya langsung berjalan menuju Imbiah Lookout Station demi langsung mengarah ke Merlion Station dimana Universal Studio berada.

Puas menikmati bagian luar Universal Studio, kami bergerak menuju Siloso Station. Awalnya ga niat mau ke sana, tapi karena udah beli tiket sayang kalau tidak dimanfaatkan. Setelah melepas dahaga di 7-eleven, kami bergerak menuju pantai.

Capek di pantai, kami langsung balik menuju Harbourfront. Niat awal agar bisa segera sampai di Garden by the Bay dan bisa kembali ke Harbourfront untuk menikmati atraksi gratisan yang didapat pada saat membeli tiket Cablecar.

Kenyataan memang ga selalu sesuai dengan apa yang direncanakan. Sempat kesusahan mencari tempat penukaran tiket Garden by the Bay yang dibeli via traveloka, membuat waktu banyak terbuang. Sehingga sampai di Garden by the Bay sudah agak sorean dan kami memutuskan untuk tidak kembali ke Harbourfront.

Berhubung sudah agak sorean, kami jadi tidak terlalu fokus untuk berlama-lama di Flower Dome dan Cloud Forest. Untuk Flower Dome, sempat mengitari kesuluruhan namun Cloud Forest tidak sampai naik ke atasnya karena kami mengejar naik ke OCBC Skyway yang katanya antrian tutup pukul 18.00 waktu setempat.

Benar saja, antrian sudah mengular panjang. Kami mencoba langsung antri tapi disuruh mengambil nomor jam masuk jadi harus antri lagi mengambil nomor. Kami dapat jatah jam 20.00 untuk naik ke Skyway, beruntung kami disuguhi atraksi lampu yang sangat menarik.

Atraksi yang disuguhkan Garden by the Bay

Masuk antrian 19.30, kami langsung masuk di barisan awal namun kaki tetap pegal karena masih 30 menit menuju jadwal masuk. Tapi karena sudah disuguhi atraksi, rasa penasaran untuk melihat ke atas jadi semakin membuncah. Sesampainya di atas, istri agak ketakutan karena goyangan jembatannya agak terasa. Dari awal sampai akhir gue tersenyum-senyum melihat tingkahnya yang berkali-kali baca istigfar, jadi maklum aja mukanya saat di foto terlihat tidak santai.

Puas dan kelelahan menikmati Garden by the Bay, kami bergerak ke La Pau Sat untuk mengisi perut yang sudah meronta. Lagi-lagi sempat kehilangan arah dan sedikit tersesat, namun akhirnya berhasil menemukan tempat tersebut. Jam 10 malam kami bergerak menuju hotel si Deri untuk mengambil Ransel yang dititip di sana. Dari hotel si Deri, kami bergerak menuju Tanjong Katong tempat kami menginap yang di pesan menggunakan Airbnb menggunakan Taksi. Ini Taksi pertama yang kami gunakan di Singapura, karena anak-anak sudah terelelap di gendongan.

Berikut tampilan kamar yang kami pesan via Airbnb. Kamar dan toilet bersih, minusnya toilet sharing dan berada di lantai 2 yang lantainya agak terjal. Jadi kalau bawa orang anak-anak tidak bisa dilepas naik atau turun sendirian. Untuk harga yang kami bayarkan di akhir pekan, sangat puas karena untuk mencari hotel murah yang ramah anak tidaklah mudah di Singapura.

Lelah dan puas membuat tidur malamnya terasa pulas dan bersiap untuk menjalani hari terakhir backpaker kami di Singapura esok harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *