#adimancarigadih s2c11

“Iya, aku ga bisa ketemu hari ini. Lagi banyak kerjaan menumpuk belakangan ini. Maaf ya, mungkin minggu depan kita bisa ngopi bareng”, gue menjawab permintaan Meira melalui sambungan telepon.

3 hari sudah gue menyampaikan alasan yang sama kepada Meira. Dengan hadirnya Ayu di tempat kerja yang sama membuat waktu untuk menemuinya menjadi berkurang. Saat jam pulang, Ayu sudah menunggu di lobby kantor untuk diantar ke kosannya. Sebelum ke kosan, dia selalu mengajak makan atau hanya sekedar menikmati kopi sampai dia bosan.

“Ayo Da, kita pulang”, Ayu tiba-tiba sudah menarik tangan gue dari arah samping.

Gue melihat ke arahnya dan mengangguk. Tidak heran bagi karyawan lainnya saat melihat kami berjalan bersama ke luar kantor. Mereka memang belum mengetahui status Ayu sebagai tunangan gue. Tapi mereka mahfum, kalau gue terlihat berusaha untuk mendekati Ayu karena latar belakang sebagai jomblo akut.

Sindiran dan cemoohan halus dari rekan kerja sudah nyaman ditelinga. Gue membalas dengan senyuman dan tetap bertingkah seperti biasa.

“Uda, hari ini kita mau kemana dulu?”, Ayu bertanya setelah kami berjalan jauh meninggalkan kantor.

“Terserah kamu saja, enaknya mau kemana?”, gue balas bertanya.

“Gimana kalau kita makan di Mall?”, dia bertanya dengan manja.

“Aku setuju saja”, gue menjawab datar.

Kami memesan Taxi untuk menuju mall terdekat dan mencari tempat makan yang dirasa pas dengan kondisi kantong. Ayu menarik gue ke sebuah restoran Italy, muka gue pucat pasi. Pasti ini mahal, begitu yang terpikir dalam hati. Ayu sepertinya memahami apa yang gue pikirkan, dia merangkul tangan gue mencoba untuk menenangkan.

“Tanang sajo Uda, hari ini aku yang mambayia”, dia berbisik.

Kami memilih tempat duduk non smoking agar nyaman menikmati makanan yang disajikan. Setelah memesan makanan, Ayu minta ijin untuk pergi ke toilet. Untuk mengisi kekosongan, gue melihat ponsel sambil memeriksa e-mail jaga-jaga kalau ada tugas yang terlewat.

Tiba-tiba suara perempuan dengan lembut menyapa.

“Hai”, suara tersebut terdengar lembut di telinga.

Gue menoleh dan membalas singkat, “Hai”.

“Maaf, aku Chyntia. Ini kartu namaku, aku ingin berkenalan denganmu”, dia memperkenalkan diri sambil menyodorkan kartu namanya.

“Gue Adi”, jawab gue sambil mengambil kartu namanya.

“Boleh minta kartu namanya?”, dia bertanya dengan halus.

“Oh maaf, ini”, gue juga menyodorkan kartu nama kepadanya.

“Yang tadi pacarmu?”, dia kembali bertanya.

“Hanya teman biasa”, gue menjawab santai.

“Oh, temanmu sudah kembali, sebaiknya aku kembali ke mejaku”, dia berkata karena melihat Ayu telah kembali dari toilet. Sambil berjalan dia meletakkan tanggannya seperti memberi kode agar gue menelponnya.

“Sia tu Da?”, Ayu bertanya sambil meletakkan tubuh di kursinya.

“Ga kenal, mungkin mau nawarin asuransi”, gue menjawab.

Ayu tersenyum dan kamipun menikmati santap malam dengan lahap sampai sebuah pesan masuk di ponsel gue. Gue melihat pesan tersebut, dari nomor tak dikenal yang berbunyi, “Aku Chyntia, jangan lupa menghubungiku”.

Gue melirik ke arah mejanya, dia melambaikan tangannya sembari memberikan senyumannya. Gue buru-buru mengalihkan pandangan ke arah Ayu yang berada di depan dan segera menghapus pesan tersebut.

Entah ini godaan atau memang dia hanya seorang marketing yang ingin menawarkan dagangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *