#adimancarigadih s2c9

Kebebasan gue seperti terkekang karena cincin yang melingkar di jari ini. Setiap waktu ada saja alasan Ayu untuk menghubungi. Jengah, mungkin itu yang dirasakan oleh pria-pria di luar sana saat harus berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pasangannya.

Sudah makan? Jangan lupa sholat atau hanya menanyakan sedang apa dengan siapa mau kemana menjadi rutinitas yang tak pernah berhenti setiap harinya. Jika bukan karena ingin membahagiakan keluarga mungkin sudah diputus saja ikatan ini.

Belum lagi jika berdering saat bertemu dengan Meira, berbohong sudah menjadi keahlian terbaru yang gue lakukan. Ada saja alasan untuk menjauh darinya saat nama Ayu tertera di layar ponsel. Ya, hubungan gue dengan Meira menjadi semakin dekat. Tiada hari yang dilewati tanpa pertemuan di setiap harinya. Seperti malam ini, kami sekedar melepas kepenatan kerja sambil menikmati secangkir kopi di kafe favoritnya.

Beberapa kali dia melontarkan kata-kata pujian dengan harapan gue membalas pujian tersebut. Namun tak satupun kata manis yang bisa keluar dari mulut ini. Gue masih berusaha untuk setia dengan janji yang telah terucap. Tak satupun kalimat cinta dan sayang yang pernah keluar dari mulut ini untuknya walau hati menggebu untuk diungkapkan.

Seperti biasa, ponsel bergetar pertanda ada yang menghubungi. Gue langsung mengambil ponsel dan minta ijin untuk menerima telepon tersebut kepada Meira, kali ini gue berbohong dihubungi oleh Amak dari kampung padahal nama Ayulah yang tertera .

“Assalammualaikum”, gue membuka percakapan sambil bergerak menjauh dari Meira.

“Waalaikum salam, Uda.”, suara dari seberang terdengar bersemangat.

Pertanyaan yang seperti biasa meluncur dengan bertubi-tubi dan gue menjawab dengan kata iya-iya dan oke. Tiba-tiba pernyataan Ayu berikutnya membuat gue terkejut.

“Uda, besok aku berangkat ke Jakarta. Aku diterima kerja di sana lewat kenalan Ayah. Uda bisa jemput aku di bandara?”, tanyanya dengan penuh semangat.

Gue terkejut bukan kepalang, besok gue sudah berjanji untuk bertemu kembali dengan Meira. Lalu jawaban apa yang harus gue sampaikan agar tak ada tanya menyelimutinya. Gue terdiam sejenak, lalu terdengar pernyataan melegakan darinya.

“Aku tau Uda sibuk, kalau tidak bisa tidak apa-apa. Lusanya kita harus ketemu”, katanya santai.

“Iya, aku mungkin tidak bisa menjemput”, gue mengiyakan.

“Okelah kalau begitu, sampai ketemu lusa ya Uda sayang”, tutupnya sambil mengucapkan salam.

Setelah telepon terputus, gue kembali duduk di samping Meira.

“Ada apa?”, Meira bertanya.

“Sepertinya kamu kaget, ada apa dengan Ibumu”, lanjutnya.

“Ah, tidak apa-apa. Ayo lanjutkan minumnya”, jawab gue mengalihkan pertanyaannya.

Kami melanjutkan pembicaraan dan gue berusaha untuk bersikap wajar agak tak ada pertanyaan aneh yang keluar dari Meira. Entahlah, gue masih bingung dengan perasaan sendiri. Berterus terang kepadanya akan membuat hati ini kehilangan namun jika tidak suatu saat dia yang akan menderita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *