#adimancarigadihs2c8

Bis yang ditumpangi sampai di Bandara Minangkabau, satu-satunya bandara komersial di Sumatera Barat. Memang tidak seramai Bandara kota besar lainnya, tapi pada hari ini hampir seperti saat mudik lebaran. Entah kenapa banyak orang-orang yang ingin bepergian hari ini.

Gue menuju counter check in sambil membawa tas dan sebuah kardus yang berisikan oleh-oleh untuk teman sekantor. Setelah semua proses dilalui dengan lancar, gue menuju ruang tunggu sambil melihat pesan di ponsel.

Ada 3 pesan belum terbaca.

1 pesan dari Ayu yang berbunyi, “Uda, kalau sudah sampai Padang, Hubungi aku ya.”

Pesan berikutnya dari Santi yang menyampaikan pesan Amak, “Uda, kato Amak: baik-baik di rantau, jangan lupa sholat. Salam, Santi”.

Pesan terakhir dari Meira, “Adi, kok terputus? jaringan jelek ya? Kalau sudah ada signal, boleh hubungi aku?”.

Gue membalas pesan Santi terlebih dahulu, “Uda sudah sampai Padang, salam sama Amak. Insya Allah, ingek pasan Amak”

Selanjutnya bimbang akan menghubungi siapa, namun setelah penuh perhitungan, gue memilih untuk menelepon Ayu. Tanpa menunggu nada dering berbunyi lebih lama, terdengar suara dari seberang.

“Alhamdulillah, Uda sudah sampai Padang?”, Ayu menyapa dengan ceria.

“Iyo, baru sajo sampai”,

“Alah makan Uda?”, dia bertanya penuh perhatian.

“Alun, Uda langsung menelpon setelah manarimo pesan dari Ayu”, jawab gue.

“Ah, Uda bisa sajo”, ucapnya centil. “Ya sudah, kalau begitu Uda isi paruik dululah, nanti sakit pula”, lanjutnya.

“Iyolah kalau begitu”,

“Kalau sudah mau berangkat kabari ya Da!”, pintanya agak manja.

“Iya, nanti Uda kabari. Assalamualaikum”, gue menutup telepon setelah dia membalas salam yang gue ucapkan.

Gue menetap ponsel yang baru saja menempel di telinga, hati ini ingin menghubungi Meira namun entah kenapa tak kunjung mampu untuk memulainya. Akhirnya untuk mengusir kebosanan, gue membeli koran sambil menunggu jadwal keberangkatan.

Karena datang lebih awal, gue haru menunggu sekitar 2 jam lebih. Untung tidak ada penundaan jadwal penerbangan. Tepat jam 3 Siang pesawat lepas landas dan meninggalkan Bandara Minangkabau. Gue tertidur pulas selama penerbangan dan tidak terasa sudah sampai di langit Jawa dan pengumuman dari awak kabin pun mengatakan 10 menit lagi mendarat di Soekarno Hatta.

Pendaratan berjalan mulus dan setelah pintu dibuka gue pun langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di kosan agar dapat mengistirahatkan badan dan pikiran. Setelah mendapatkan tas dan kardus, gue menyalakan ponsel sebelum langsung menuju pintu keluar. Tepat di saat pintu terbuka, terdengar nama gue dipanggil oleh suara yang tidak asing di telinga.

“Adi!! Adi!!”, suara itu terdengar dari sebelah kanan.

Gue mencari sumber suara tersebut, terlihat Meira melambai dari arah suara tersebut. Meira tampak anggun dengan jilbab berwarna biru langit dengan baju warna senada dan polesan makeup tipis ditambah senyuman manisnya membuat pria yang menatap tak akan bosan memandanginya.

“Mei?”, tanya gue dengan nada kaget.

Dia tersenyum, “Ya, aku sengaja datang menjemputmu”.

Gue membalas senyuman itu namun suara dering ponsel mengagetkan kami. Meira meminta gue menjawab telepon tersebut. Terlihat nama Ayu di sana dan gue minta izin untuk menerimanya.

“Maaf Mei, telepon dari kantor. Aku angkat dulu ya!”, gue berbohong dan bergerak menjauh darinya.

“Assalamualaikum, Ayu. Uda sudah di Jakarta”.

“Uda sudah sampai? kok Ayu indak diberi tahu pas berangkat”, rengeknya.

“Maaf, Uda lupa. Tadi capek sekali, kelupaan mengabari. Ini Uda mau jalan menuju kosan”, gue berusaha memberikan alasan yang masuk akal.

“Oh, belum sehari Uda sudah lupa sama Ayu”, ucapnya manja.

“Manalah mungkin Uda lupa sama Ayu, cincin iko kan masih melingkar”, ujar gue sambil melihat cincin di jari manis.

“Iyolah Uda, nanti Ayu telepon lagi ya”, ujarnya.

“Iya, sampai jumpa”, telepon diseberang sudah tertutup.

Untung sadar jika ada cincin di jari manis, gue langsung membuka cincin tersebut sebelum kembali kepada Meira. Setelah nafas dan jantung bisa dikondisikan, gue memanggil Meira untuk mendekat.

“Kenapa repot-repot sih?”, tanya gue.

“Ah, biasa aja. Kita kan sudah lama tak bertemu”, jawabnya. “Kamu sudah makan?”, lanjutnya.

“Belum”

“Yuk, kita makan di sana”, dia menunjuk restoran yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.

Gue mengiyakan permintaannya dan berjalan mengikuti dia yang sudah terlebih dahulu beranjak pergi. Gue belum mau membahas apa yang disampaikannya sebelumnya, biarlah dia yang memulainya. Jika memang ini jalannya, akan dihadapi walau apapun yang akan terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *