#adimancarigadihs2c7

Tanpa usaha yang berat, sekarang status gue sudah berubah menjadi tunangan seseorang. Walaupun dia bukan yang paling dimiliki, tapi dialah yang mungkin akan menemani hingga akhir hayat nanti, begitulah yang ada di pikiran gue saat ini.

Sudah saatnya gue meninggalkan kampung halaman, kembali ke rutinitas yang sebenarnya. Amak, Santi dan Ayu mengantar sampai terminal bis menuju bandara di Kota Padang. Pelukan hangat dari Amak mengingatkan ke masa-masa hendak meninggalkan kampung pertama kali di masa lalu. Dimana Santi masih sangat kecil, Amak kemana-mana masih pakai “lambak” sarung menandakan kami dari keluarga tak berpunya. Emak menitikkan air matanya tanda tak mau berpisah walaupun tak ada kata-kata yang terucap. Santi menyalami tangan dan gue memeluknya dan berpesan untuk menjaga Amak dan dirinya hingga nanti gue pulang menghadiri pernikahannya setelah dia diwisuda. Tiba saatnya berpamitan dengan Ayu, gue merasa canggung.

Gue menyalaminya dan berkata, “Maaf, Uda harus balik ke Jakarta. Untuk masa depan kita berdua”.

“Iya, Uda. Aku akan akan menunggu sampai Uda membawaku ke sana”, jawabnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

“Dan jaga tanda ikatan yang melingkar di jari Uda”, lanjutnya.

Gue mengangguk dan kemudian melangkah memasuki bus yang akan berangkat sembari melambaikan tangan untuk terakhir kalinya, meninggalkan mereka yang masih setia berdiri.

Bus melaju menuju kota Padang, kursi yang masih kosong membuat leluasa menaruh tas dan kardus di samping. Gue merogeh kantong tas mencari ponsel yang dari tadi pagi belum dinyalakan. Setelah menemukan ponsel dan headset, gue menyalakannya untuk mendengarkan musik. Butuh beberapa detik untuk ponsel tersebut menyala dan muncul notifikasi pesan yang belum terbaca. Ada beberapa pesan dari teman kantor yang menanyakan perihal kerjaan yang masih menggantung dan ada pula email dari atasan yang meminta klarifikasi client.

Setelah puas membaca semua notifikasi, gue langsung menyalakan musik sambil menikmati perjalanan menuju kota Padang. Hawa dingin saat melintasi kota Bukittinggi ditambah indahnya pemandangan bukit dan sawah serta diiringi musik favorit membuat mata menjadi lelah karena nikmatnya. Saat raga mulai terbuai, tiba-tiba dering telepon masuk membuyarkan semua kenikmatan itu. Tanpa melihat siapa yang menghubungi, gue menerima telepon tersebut.

“Assalamualaikum, Adi”, serunya lembut di seberang sana.

Sepertinya gue mengenal suara ini, gue langsung melihat ke layar ponsel untuk memastikan, dan ternyata sesuai dugaan, Meira! Nama yang tertera di layar ponsel. Gue terpaku, hingga suaranya terdengar merdu di telinga.

“Adi, kamu masih di sana?”, tanyanya.

“Kamu tidak mau bicara denganku?”, lanjutnya kemudian.

Gue langsung menjawab dengan cepat, “Hei, apa kabar?”

“Kamu dimana, boleh kita bertemu?”, dia kembali bertanya.

“Maaf jaringanya kurang bagus, aku sedang di Padang”, gue berusaha menjawab dengan santai.

“Kamu kapan kembali, aku kangen sama kamu”, dia berkata tulus.

Gue menelan ludah dan degup jantung berdetak menjadi tak beraturan.

“Aku pikir kamu kemana, tidak ada kabar setelah telepon terakhir. Aku kira, kamu tidak akan pernah menerima teleponku lagi”, lanjutnya.

Petir serasa menebas jantung, tidak akan menyangka akan seperti ini. Gue sudah mencoba untuk memilih jalan yang terbaik bagi semua orang dan berharap akan berakhir indah.

“Adi, kamu kapan pulang? Tolong jawab aku”, ucapnya lirih.

“Hari ini aku pulang”.

“Kamu pulang naik apa?”, dia kembali bertanya.

“Aku naik Gajah Air jam 3 siang dari Padang”.

“Sungguh aku rindu sekali denganmu, aku baru merasakan kehilangan setelah kau pergi. Maafkan saat aku memutus teleponmu, aku kaget karena aku merasakan hal yang sama denganmu, apakah mungkin kita bersama”, lanjutnya.

Ada harapan indah yang terdengar dari suaranya, gue tidak bisa berkata apa-apa. Gundah gulana perasaan ini hingga jaringan telekomunikasi menghilang ditelan perbukitan yang mengapit sepanjang perjalanan ini. Gue termenung, terlena akan apa yang menimpa saat ini. Akankah membatalkan lamaran yang sudah terjadi atau melupakan Meira yang jelas-jelas masih menyisakan lubang di hati ini.

Nb: Pusiang2 lah si Adi Mambaconyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *