#adimancarigadihs2c6

Dengan pakaian formal dan sebuah peci warna hitam membuat gue tampak seperti ustad yang datang memberi pengajian. Ya, hari ini adalah hari dimana keluarga gue akan meminang Ayu sebagai calon menantunya. Semua keluarga sudah menyiapkan semuanya dari kemarin sehingga hari ini harusnya berjalan dengan lancar.

Degup jantung tak dapat dibendung lagi saat rombongan keluarga besar sudah berada di depan rumah besar nan megah kepunyaan keluarga Etek Ila. Mamak Hendri yang berdiri di samping kiri merangkul pundak gue dan berusaha menenangkan. Amak dan Santi yang berada di sebelah kanan tersenyum ke arah gue. Entah itu senyum bahagia atau senyuman menggoda.

“Uda sini ponselnya, agar tidak mengganggu proses lamarannya”, Santi mendekat ke arah gue.

Gue menyerahkan ponsel yang ada di saku tanpa banyak protes dan Santi pun kembali ke posisinya semula.

Keluarga besar Etek Ila sudah menanti di halamannya yang sudah dipasangi tenda agar semua tamu dapat duduk dengan nyaman, mereka mempersilahkan kami sekeluarga untuk masuk ke dalam rumah. Terlihat suami Etek Ila berpakaian sangat rapi dengan batik lengan panjang dengan peci berwana putih yang menambah kesan wibawanya. Tidak terlihat kehadiran Ayu di sekitar keluarganya.

Setelah kami semua masuk ke dalam rumah dan dipersilahkan duduk oleh tuan rumah, seorang Ibu paruh baya yang dipercaya sebagai MC menyapa keluarga kami melalui pengeras suara yang sengaja dipasang untuk acara ini.

Dari pembukaan sampai basa-basi pemuka adat berjalan lancar dan sampailah pada acara puncaknya, pernyataan lamaran dari keluarga besar. Mamak Hendri yang menjadi wakil dari keluarga menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami. Dengan ringkas beliau mengutarakan keinginan kami untuk menjadikan Ayu sebagai calon menantu di keluarga dan pernyataan singkat tersebut disambut dengan cepat oleh seorang Bapak yang gue tahu merupakan salah satu Mamak dari Ayu yang bernama Lukman.

Proses lamaran berjalan lancar setelah Mamak Lukman menerima permintaan dari keluarga kami. Dan jantung yang dari tadi berdegup kencang dapat bernapas lega kembali. Tidak beberapa lama Ayu keluar dari dalam rumah didampingi beberapa wanita seusianya, dia melemparkan senyum manisnya. Gue diminta untuk mendekatinya oleh MC, dari arah belakang Amak menyodorkan kotak yang berisi cincin untuk dikenakan di jari Ayu. Pertukaran cincin yang terjadi begitu cepat langsung disambut sesi foto karena kami seperti diserbu paparazzi. Lampu blitz kamera tak hentinya menyala hingga mata sampai silau untuk melihat.

“Uda, ada telepon”, Santi dari belakang mencolek dan menyodorkan ponsel gue.

“Dari siapa?”, gue masih berusaha untuk melayani orang-orang yang meminta untuk berfoto.

“Dari Meira. Sudah 10 kali dia menelpon tidak berani aku mengangkatnya. Coba Uda diangkat, takutnya penting”, Santi menjawab.

Desss… Jantung yang sudah mulai stabil kembali berdegup kencang. Ada apa ini? kenapa Meira menghubungi gue? Apakah dia tahu gue sedang lamaran?

Gue meraih ponsel yang disodorkan, terlihat 10 kali panggilan tak terjawab atas nama Meira. Gue meminta izin untuk menelpon kepada Ayu yang berada di sebelah, dia terlihat tidak sadar karena terlalu sibuk dengan keluarganya yang bolak-balik meminta berfoto.

Gue berjalan menjauh, menatap ponsel dan mengumpulkan keberanian untuk menghubungi kembali. Tatapan mata mencoba untuk melihat sekitar, dimana seluruh suasana terlihat bahagia. 30 detik gue berdiri dan akhirnya gue memutuskan untuk menyimpan kembali ponsel di saku jas, kemudian berjalan kembali untuk melengkapi kebahagian yang sedang terjadi di rumah ini.

1 thought on “#adimancarigadihs2c6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *