#adimancarigadihs2c5

Hari lamaran sudah di depan mata, jantung makin lama semakin berdegup kencang. Antara pasrah dan semakin yakin bahwa Ayu adalah wanita yang akan menemati hingga akhir hayat.

Semua sudah dipersiapkan, semalam suntuk keluarga besar mempersiapkan acara lamaran. Dari yang membuat gelamai sampai membuat kue basah untuk di bawa ke acara lamaran esok paginya.

Sudah Pukul 10 Malam, gue ikut memperhatikan bapak-bapak yang sibuk mengaduk gelamai di belakang rumah, aroma manis yang menusuk hidung seakan akan sudah masuk mengecap di lidah. Lamunan gue terbang entah kemana hingga mata pun sempat terpejam sampai akhirnya seorang bapak menyenggol tubuh yang mulai terlihat goyah. Untung saja bapak lainnya sempat menahan gue dari arah sebaliknya.

“Tidur dulu sana, tidak usahlah nungguin kami di sini”, ujar Bapak tersebut.

“Biasolah itu Pak, rasa hati ingin capek besok pagi”, Bapak yang lain menimpali disambut tawa Bapak-Bapak yang lainnya.

Gue tersenyum kecut.

“Udah, kalo Ujang mangantuak lalok saja di kamar”, Bapak sebelumnya memegang pundak gue.

“Indak Pak, ambo masih ingin melihat Bapak-Bapak membuat gelamai”, sahut gue sambil melihat ke arah beliau.

“Ya sudah, di situ bisa bersandar. Rancaknyo pindah duduk di situ sajo”, lanjutnya sambil menunjuk tempat kosong di samping dinding rumah.

“Iyo Pak”, jawab gue sambil berpindah ke tempat yang ditunjuk Bapak tersebut.

Gue kembali duduk sambil memainkan ponsel yang dari tadi sore belum dilihat. Tidak ada update berarti, hanya email lowongan pekerjaan dan promosi yang memenuhi inbox. Mencoba membuka list kontak yang ada di ponsel, mencari nomor Meira yang tersimpan di sana. Ingin rasanya untuk terakhir kali menghubunginya, tapi tak ada keberanian untuk melakukannya.

“Uda…”, suara perempuan memanggil dari seberang.

Terlihat Santi adik semata wayang menyunggingkan senyumannya, dia berjalan ke arah gue dan langsung duduk di samping. Ya, dia masih dalam masa praktek lapangan untuk menyelesaikan studinya. Walaupun sudah ada yang melamar untuk menikahinya di akhir tahun nanti.

“Apa kabar kamu? Gimana praktek lapangannya?”, gue langsung bertanya membabi buta.

“Indak perlulah bertanya soal aku, kok tiba-tiba Uda langsung lamaran? Dijodohan pula, bukan Uda rasanya seperti ini?”, tanyanya tanpa jeda.

Gue menarik napas, kemudian bercerita dan menjelaskan semua yang terjadi. Dia hanya mengangguk dan sedikit terkejut dengan alasan yang disampaikan.

“Lalu, sudah mantap uda sama si Ayu? sudah yakin?”, tanyanya.

“Yakin ga yakin, harus ada keputusan yang aku pilih”.

“Trus Meira?”.

“Sudahlah, semua sudah menjadi masa lalu”, gue mencoba realistis.

“Okelah, kalau Uda sudah yakin. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu”, dia memeluk dan berlalu dari hadapanku.

Gue makin kepikiran tentang Meira, apakah memang masih ada rasa yang belum tuntas dalam hati ini. Ponsel yang tadi tergeletak disamping langsung diambil, kontak Meira sudah ada di layar. Tombol dial sudah dipencet dan nada sambung pun sudah terdengar namun sebelum ada jawaban dari seberang telepon terpaksa gue putus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *