#adimancarigadihs2c4

“Bagaimana Buyuang? Sudah perlukah Mamak datang ke rumah Ayu untuk meminangnya?”, Mamak Hendri bertanya kepadaku dimana seluruh keluarga besar kami berkumpul di ruang tamu rumah kami yang kecil.

Dari Odang Salmah sampai Cucu Mamak Hendri datang setelah sekian lama kami tidak pernah bertemu. Odang Salmah adalah kakak tertua sedangkan Mamak Hendri adalah satu-satunya laki-laki di keluarga Amak.

“Iyo, bagaimana Di? Indak ingin kamu punya anak lucu macam cucuk Mak Hendri tu?”, desak Odang Salmah.

Gue terdiam mendengar pertanyaan yang bertubi dari kedua saudara Amak tersebut.

“Piak, apo lagi yang kalian tunggu. Alah bakacukupan keluarga yang mananyo si Adi, kok masih berpikir juga kalian?”, lanjutnya bertanya kepada Amak.

“Ambo terserah samo si Adi, kalaupun inyo belum mau, apa yang bisa ambo perbuat? Dia sudah dewasa, bisalah dia menentukan yang terbaik untuknya”, jawab Amak diplomatis.

“Dari keluarga merekapun sudah siap menerima Buyuang Adi sebagai menantunya walaupun harta kita tidak seberapa, itulah yang disampaikan Mamaknya si Ayu kepadaku beberapa waktu lalu”, Mamak Hendri menjelaskan.

“Jadi apa yang kau tunggu Di?”, Odang Salmah bertanya kepada gue.

Semua mata tertuju ke arah gue yang memang sudah siap untuk memberikan jawaban dari alasan berkumpulnya keluarga besar di rumah ini.

“Cubalah kamu pikirkan baik-baik Di. Umur semakin bertambah, kawan-kawan seumuran kamupun sudah menggendong anak Amak lihat. Kamu tidak kasihan dengan kami keluarga yang di sini. Iya, kamu di rantau tidak mendengar gunjingan orang sekampung. Kami yang di sini bagaimana?” ucap Amak.

“Siap!”, jawab gue kencang.

Semua kaget mendengar jawab yang keluar dari mulut gue.

“Maksud kamu siap apa?”, Mamak Hendri mengarahkan telunjuknya ke arah gue.

“Ambo siap mak. Siap untuk menikah. Alah dipertimbangkan masak-masak dan si Ayu pun sepertinya sudah bisa menerima ambo sebagai calon suaminyo”, jawab gue mantap.

“Alhamdulillah”, ucap Amak dan Odang Salmah bersamaan.

“Lah, kalau seperti itu biar Mamak yang maurus selanjutnya. Kamu tinggal tunggu tanggal mainnya. Yang penting siapkan mental dan hatimu, indak perlu menunggu lama-lama”,

“Iya Mak, Ambo ikut apa kata Mamak”, jawab gue.

Semakin lama gue berpikir, semakin pusing otak ini. Akhirnya keputusanpun sudah bulat. Menikah memang bukan urusan gampang, walau hati memang belum memutuskan tapi akal sudah kuat ingin melanjutkan.

Ayu memang tidak secantik dan semenarik Meira yang masih memenuhi salah satu ruang di hati, namun sampai kapan harus menanti kabar darinya yang tak pernah mau menerima telpon dari gue. Bagi laki-laki yang sudah “darurat” berkeluarga seperti saat ini. Dimana desakan yang tak berhenti dari keluarga dan harus segera memutuskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *