#adimancarigadihs2c3

“Cukup!”, bentaknya.

“Maaf, aku belum mampu”, gue berkata lirih.

“Aku ga mau nunggu lama lagi, lebih baik kita sampai di sini saja”, dia berdiri meninggalkan gue yang hanya bisa menunduk

Itulah hari terakhir gue bertemu dengan Hayati, wanita yang sempat memeliki tempat yang indah di hati. Berkenalan mulai dari SMA, menjalin asmara hingga akhirnya berakhir karena gue yang masih takut untuk berkomitmen.

Usia 25 seperti sudah jadi momok untuk wanita di tempat kami. Orang tua sudah memaksa untuk segera menikah. Jika anak belum memiliki pasangan, orang tua tak segan untuk mencarikan calon pendampingnya. Perjodohan inilah yang akhirnya menghentikan jalinan kasih Hayati dengan gue. Hayati yang didesak untuk segera menikah dan gue yang tidak siap untuk membina rumah tangga. Hayati terpaksa meninggalkan semua kenangan yang sudah kami lewati.

Masih ada rasa kecewa saat bertemu kembali dengannya. Namun kenangan hanya perlu untuk diingat, bukan untuk disesali. Hayati mungkin sudah bahagia dengan keluarga kecilnya dan gue harus menatap masa depan yang ada di depan mata. Gue tersenyum dan tertawa, lalu menatap kepada Ayu yang terlihat kebingungan.

“Uda kenapa? Apa karena uni tadi?”, tanyanya merujuk kepada Hayati yang telah hilang dari pandangan.

Gue lalu memegang tangannya dan berkata, “kamu yakin mau dijodohkan denganku?”

“Kenapa tiba-tiba?”, dia menjawab sambil menarik tangannya

“Sepertinya aku memang sudah harus menikah”, gue menjawab dengan tenang.

Ayu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ambo menurut kata orang tua, ridho Allah ada pada ridho orang tua”.

“Menurut Uda bagaimana?”, lanjutnya bertanya.

“Jika kamu memang mau, sebaiknya secepatnya kita lanjutkan ke tahap berikutnya”.

“Apakah tidak sebaiknya kita saling mengenal lebih jauh?”, tanyanya.

Gue diam sejenak karena memang ada sedikit perasaan tidak mau kalah terhadap Hayati yang tiba-tiba muncul bersama anaknya. Jangan sampai ini hanya keputusan yang diambil dalam kepanikan belaka.

“Bagaimana Da?”, Ayu kembali bertanya.

“Aku setuju, sebaiknya kita jalani apa adanya”,

Kami melanjutkan menikmati makanan yang tertunda, saling bercerita tentang diri masing-masing. Gue menjadi lebih mengenalnya, apa yang dia suka dan apa yang tidak disukainya. Dan baru tahu, kalau dia lulusan terbaik di angkatannya. Semakin digali, semakin banyak nilai tambah di dirinya yang membuat gue menjadi makin tidak yakin dengan diri sendiri. Apa benar wanita dari keluarga kaya sesempurna dia mau bersuamikan lelaki biasa yang tidak berpunya ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *