#adimancarigadihS2C2

“Masuklah Uda Adi”, Ayu meminta masuk rumahnya.

Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya ketemu juga rumah Etek Ila. Rumah bertingkat 2 dengan halaman yang sangat luas, kontras dengan beberapa rumah yang berada di sekitarnya. Memang tidak ada pos sekuriti di depan rumah, namun pagar dengan tinggi hampir 170 centimeter serasa menjamin keamanan si tuang rumah. 3 mobil terparkir nyaman di garasi rumah, 2 mobil city car dan 1 mobil MPV Premium seperti mengejek gue yang datang dengan modal jalan kaki.

Ayu tersenyum melihat gue yang terpana memperthatikan seluruh halamannya. Entah dia menganggap aneh atau malah merendahkan. Setelah masuk ke dalam rumah, gue merasa tidak pantas dijodohkan dengannya.

“Kita mau kemana Da?”, tanyanya membuyarkan kekaguman gue.

“Etek Ila sama Ayah kamu mana?”

“Ibu sama Ayah kerja Da”, jawabnya.

“Oh, mereka kerja dimana?”, gue berusaha menyelidiki.

“Di kota, Ibu Kabag di Dinas Perdagangan dan Ayah Kepala Kantor Pajak”, jawabnya enteng.

Gue mengangguk tanda memahaminya.

“Hari ini Uda mau kemana?”

“Belum ada rencana”, gue menjawab pelan.

“Mau ikut aku ke kota, jalan-jalan sore?”, tawarnya sopan.

Gue mengiyakan dan dia langsung bergegas untuk bersiap. Setelah sekitar 30 menit menunggu, dia turun dari lantai atas. Tampilannya berubah drastis dari yang tadi biasa saja sekarang sudah mengkilap seperti mobil yang terparkir di depan. Ya, saat gue datang, dia sepertinya tidak ada rencana ingin keluar hari ini. Rambut masih seperti orang mau mandi, diikat ke atas dengan baju tidur warna ungu membuat pria manapun tidak tertarik dengan penampilannya. Tapi sekarang, muka mulus dengan rambut sebahu tergerai rapi dengan bibir yang sudah diolesi gincu berwarna nude membuat pria yang tadi enggan melirik menjadi tergila-gila.

Setelah mengunci pintu rumahnya, dia mengajak masuk ke dalam salah satu mobil citycarnya. Dia sempat meminta agar gue yang membawa mobil tersebut, tapi terpaksa ditolak karena merasa memang belum bisa menyetir. Saat masuk ke dalam mobil, aroma wangi parfum mobil langsung menusuk hidung. Kursi jok yang nyaman membuat punggung terasa rileks. Ayu membawa mobil dengan tenang, sambil bercerita mengenai pendidikannya dan alasan kenapa dia mau dijodohkan.

Dari situ gue tahu selama ini setiap laki-laki yang mendekatinya hanya karena harta yang dimiliki orang tuanya. Beberapa kali dia dikecewakan oleh mantannya. Bahkan ada yang uang kuliah dan uang jajan disubsidi olehnya. Gue hanya bisa mengangguk dan berkata “oh” dalam perjalanan tersebut. Sampai akhirnya dia bertanya balik, apakah ada ketertarikan kepadanya.

“kamu cantik dan menarik”, jawab gue.

“hanya itu Da?”, lanjutnya.

“Aku belum tahu, terlalu cepat untuk tertarik secara perasaan karena kita baru mengenal”, jawab gue diplomatis.

Dia mengiyakan dan tidak melanjutkan pertanyaannya malah dia bertanya kenapa pria seusia gue belum menikah sampai saat ini. Jawaban belum ada yang cocok adalah pilihan terbaik yang terlontarkan saat itu. Lagi-lagi dia percaya dengan jawaban sesimple itu.

Setelah hampir 30 menit berkendara, mobil berhenti di sebuah warung kebab yang terlihat ramai. Kami turun dan langsung memilih tempat duduk. Ayu mengatakan kalau tempat ini adalah tempat nongkrong favorit di kota ini.

Sambil bercerita, tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue.

“Adi?”, tegurnya.

Gue menoleh dan terlihat seorang wanita menggendong anak yang mungkin masih berusia kurang dari setahun.

“Hayati?”, tanya gue ragu-ragu.

“Iya, sudah lamo kita tak ketemu. Ini binimu?, tanyanya sambil menunjuk ke arah Ayu yang duduk di seberang gue.

Gue gelagapan dan Ayu yang tadi duduk langsung berdiri untuk menyalami Hayati yang berdiri di sebelah gue.

“Ayu, Ni” dia memperkenalkan diri.

“Aku Hayati. Sudah berapa pasukanmu Di?”, Hayati menjawab dan langsung bertanya.

Ayu duduk kembali ke tempatnya dan gue masih terdiam.

“Sepertinya kalian masih pacaran ya?”, Hayati tiba-tiba mengganti pertanyaannya.

“Jangan lama-lama Di, nanti diambil orang. Penantian juga ada batasnya”, ujarnya melenggang pergi.

Gue cuma bisa melihat dia pergi meninggalkan kami. Ayu menatap gue heran seperti ingin mencari tahu kenapa gue terdiam. Mulut masih terkunci seakan tak percaya bertemu kembali dengan wanita yang dulu pernah menghiasi hati ini. Lama sekali waktu yang kami habiskan bersama namun itu semua tinggal kenangan yang tidak bisa dibilang indah.

Sekarang diumur yang bisa dibilang tua ini, gue masih duduk di depan wanita yang baru lulus kuliah hanya untuk mengenalnya lebih jauh, sedangkan dia sudah menggendong seorang anak yang mungkin jika kami masih bersama adalah darah daging gue.

Pikiran gue bercabang entah kemana, memutar cerita masa lalu dan tak peduli kalau ada wanita yang siap menjadi pendamping duduk di depan mata.

1 thought on “#adimancarigadihS2C2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *