Chapter 16

Sudah dua minggu ini gue mencoba menelpon Leia, namun tidak pernah sekalipun telepon diangkatnya. Mungkin masih ada kemarahan yang tersisa dalam dirinya, tapi gue tidak mengerti apa yang salah selama ini. Gue sempat meminta pendapat Meira tentang kejadian tersebut, menurutnya wajar jika Leia marah karena tidak ada kejelasan dalam hubungan kami. Sampai saat ini pun, gue tidak bisa memahami perasaan yang ini. Kadang gue memikirkan Leia sepanjang malam namun tiba-tiba terbayang senyuman dan tawa Meira yang tak pernah ingin pergi dalam kedipan mata. Jika boleh memiliki keduanya tentu tak akan ada pikiran kalut seperti sekarang ini.

Hari ini gue berencana untuk menemui Leia di rumahnya, niatnya untuk memperjelas hubungan kami selama ini. Gue akan menyampaikan bahwa tak ada perasaan lebih dari sebagai teman di hati ini dan semoga dia dapat memahami apa yang gue rasakan. Gue sudah berada di depan rumahnya tepat pada saat ayahnya sedang menyiram tanaman yang berada di halaman. Leia tidak ada di rumah, katanya dia pergi bersama Jody. Ayahnya tidak tahu ke mana mereka pergi, tapi gue punya firasat kalau mereka pergi ke warung kopi milik Jody. Sebelum pamit, gue mengutarakan semua yang terjadi kepada ayahnya dan beliau memahami keputusan yang diambil. Beliau ikhlas menerima keputusan gue pilih karena cinta memang tidak untuk dipaksakan.

Tepat seperti yang gue duga, Leia dan Jody berada di warung kopi. Gue menghampiri Leia yang duduk sendirian sedangkan Jody terlihat sibuk melayani pelanggannya yang luar biasa ramainya. Leia terlihat kaget dengan kedatangan gue dan mengambil tasnya dari kursi pertanda sebagai tanda mempersilahkan duduk.

“Hai”, sapa gue sambil duduk di sampingnya.

Dia melemparkan senyuman tipisnya, masih manis dan tetap semanis pertama kali kami bertemu.

“Aku ingin menjelaskan masalah kemarin”, gue ingin segera mengeluarkan isi hati,.

“Lupakan semuanya. Aku seharusnya yang meminta maaf, aku bertindak kekanakan. Seharusnya aku tidak seperti itu”, dia tiba-tiba merasa bersalah.

“Maksud kamu?”, gue bertanya.

“Aku egois. Aku hanya memaksakan keinginanku sendiri tanpa peduli dengan perasaan orang lain”,

“Jadi?”

“Ya, aku paham perasaanmu. Aku bukan yang kamu pilih.”, lanjutnya.

Lega, itu yang gue rasakan mendengar apa yang disampaikannya. Gue menarik nafas panjang pertanda hilangnya beban yang menjadi pikiran beberapa hari ini. Semuanya seperti terangkat dari pundak ini.

“Apakah kamu sudah menemu Meira?”, tiba-tiba pertanyaan itu mengingatkan gue akan masalah lain yang tidak terbayangkan. “Pergilah, kamu harus menyatakan perasaanmu kepadanya seperti Jody menyatakannya kepadaku.”, lanjutnya sambil tersenyum.

Gue mengernyitkan dahi tanda tak mengerti dengan arah pembicaraannya.

“Iya, kami sudah jadian. Berkat kejadian itu, aku bisa menerimanya dan sekarang sebaiknya kamu juga melakukan hal yang sama”, sarannya sambil tersenyum manis.

Gue langsung mencoba menghubungi Meira, ada jawaban di sana. Gue melirik kepada Leia dan dia melemparkan senyuman sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Halo, Mei”,

“Aku belum dilupain ya, Di?”, jawabnya dari seberang sana.

“Maaf ya, waktu itu aku ninggalin kamu sendirian.”,

“Namanya pacar ngambek, ya pacarnya lah yang dikejar masa mau duduk sama aku”, jawabnya sambil tertawa.

“Dia bukan pacarku”, sambil melirik kepada Leia.

“Masa sih?”

“Iya. Sumpah.”,

“Ah, ga mungkin lah. Ga mungkin marah seperti itu kalau bukan pacar.”

“Iya, aku belum punya pacar”.

“Ga mungkin ah, kamu bohong banget deh”.

“Aku suka kamu”, terang gue kepadanya.

Dia terdiam.

“Mei, aku suka kamu dari pertama kali kita bertemu”, lanjut gue.

Dia masih tersambung namun tidak ada suara dari seberang.

“Mei, maafkan aku. Seharusnya aku menyampaikan ini dari awal, aku sangat mencitai ……”, kata-kata gue terhenti karena suara telepon terputus. Leia melihat dan gue memberikan cengiran yang terasa dipaksakan. Leia sepertinya ingin mengetahui apa yang terjadi tapi gue tidak ingin membicarakannya. Untunglah Jody datang menghampiri sambil menyuguhkan kopi terbaiknya untuk kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *