Chapter 15

Ini yang menyebalkan saat datang ke kantor lebih cepat dari biasanya. Bos yang sudah berada di meja langsung memberikan tugas yang harus diselesaikan secepatnya untuk keperluan meetingnya. Untuk orang yang membutuhkan pendapatan rutin setiap bulannya, gue harus menyelesaikan tugas tersebut dengan baik tanpa cacat sedikitpun. Di saat sedang serius mengerjakan tugas tersebut, ponsel gue berdering dan terlihat nomor Leia di layarnya. Karena pekerjaan yang harus gue selesaikan, suara ponsel tersebut terpaksa dihiraukan. Namun setelah capek mendengar dering ponsel yang tak kunjung berhenti, gue mengangkat telepon tersebut.

“Hai”, suara gue terdengar tak bersemangat.

“Kenapa lama sekali diangkatnya?”, suara Leia terdengar meninggi.

“Maaf, aku ada kerjaan. Ditungguin bos dari tadi”, jawab gue. “Ada apa?”

“Eh, aku kirain udah ga mau terima teleponku”, nada suaranya mulai merendah.

“Ya ga lah”.

“Uda ada waktu sore ini?”, tanyanya.

“Hm.. sepertinya ada. Ada apa?,” gue balik bertanya.

“Ok, nanti kita ketemu di Pasar Festival, tempat biasa jam 6 sore ya”.

“baik, sampain nanti”.

“iya, bye.”, dia menutup teleponnya di seberang sana.

Gue meletakkan ponsel dan kembali mengerjakan tugas yang sudah ditunggu oleh bos di ruangannya.

————————————————————

Gue memasuki restoran cepat saji dimana gue biasa bertemu dengan Leia, terlihat dia sudah memilih tempat duduk. Dia melihat ke arah gue, melambaikan tangan meminta secepatnya duduk di tempatnya.

“Hai”, sapa gue sambil menjatuhkan badan di kursi yang berada di depannya.

“Uda mau mesan? aku udah pesan minuman dua”, dia menunjukkan bill pesanannya.

“Ga usah, aku minum aja. Ada apa? kok tiba-tiba mengajak bertemu”, gue bertanya kepadanya.

“Aku boleh bertanya?”, nada suara dan tatapannya mulai serius.

“eh, tanya apa?”, muka gue yang kaget langsung ikutan terlihat serius.

“Uda menganggap aku ini apa?” tanyanya dengan tatapan yang masih sama.

Gue terdiam dan kemudian menjawab dengan pertanyaan, “Kita teman kan?”.

“Hanya teman?”, dia balik bertanya.

“Saat ini dan aku tidak tahu ke depannya.”

“Oh”, ujarnya sambil menundukkan wajah.

“Kamu cantik dan menarik, tapi sampai saat ini aku belum tahu perasaanku kepadamu”.

“Kemarin pagi uda kemana?”, tiba-tiba dia bertanya.

“Kemarin pagi?”.

“Iya, katanya Jody ketemu Uda di Sudirman. Benar?”

“Oh, iya. Aku olahraga bersama teman”, jawab gue.

“Cewek?”, lanjutnya bertanya.

“Iya”. gue mencoba untuk tidak berbohong.

“Cantik?”

“Hm.. Cantik itu kan relatif”, gue berusaha untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut.

“menurut Uda?”

“Gimana ya?, gue menggaruk kepala gue.

Gue terdiam dan tiba-tiba pundak ditepuk dari arah samping, saat menoleh terlihat Meira tersenyum ke arah kami. Gue kaget dan langsung berdiri berniat untuk mengenalkan mereka berdua. Terlihat ekspresi gue kikuk karena tidak menyangka akan seperti ini.

“Hai”, Meira menyapa kami berdua.

Gue memperkenalkan mereka berdua dan sungguh suasananya sangat canggung sekali. Tapi Meira telihat santai dan masih menebar senyuman kepada kami berdua. Meira meminta ijin duduk di sebelah Leia dan kami pun mempersilahkannya. Tapi Leia terlihat tidak nyaman dalam situasi ini begitupun gue.

“Kebetulan sekali ketemu di sini, kok bisa ya?”, Meira membuka percakapan.

“Iya”, jawab gue datar.

“Ini pacar kamu Di?.

“Bukan”, Leia menjawab dengan cepat namun dengan nada ketus.

“Eh, sepertinya aku salah tanya ya?”, Meira sepertinya kaget dengan nada tersebut.

“Maaf, aku permisi. Aku pulang duluan Da”, Leia berdiri dari tempat duduknya dan menatap ke arah gue.

Gue berdiri, Meira menatap kami berdua dengan rasa bersalah. Gue melihat ke arahnya dan memberikan tatapan seolah tidak terjadi apa-apa, namu Leia tetap melangkah pergi meninggalkan kami. Gue minta ijin Meira untuk mengejar Leia, dia pun tersenyum dan mempersilahkan. Akhirnya gue berhasil mengejar Leia yang sudah berada di lobby.

“Leia, ada apa?”, gue  memanggil dari belakang.

“Itu dia kan?”, dia menjawab sambil berteriak.

Gue terdiam dan dia lanjut bicara, “benar kan? itu dia. Kamu lebih memilih dia daripada aku. Kamu pikir aku seperti apa? Aku sudah berusaha untuk menyukaimu tapi kamu….”, tangisnya mulai membuncah.

“Maafkan aku.”, gue menghampirinya.

Sepertinya tangisan tersebut tidak akan berhenti dan gue berusaha untuk memeluknya. Dia menghindar dan menyeka air matanya.

“aku tidak butuh belas kasihanmu”, katanya sambil menunjuk gue.

“Maaf”, gue masih berusaha mendekatinya tapi dia tetap menghindar.

“cukup, jangan hubungi aku lagi”, ucapnya sambil masuk ke dalam taksi yang kebetulan baru menurunkan penumpangnya.

Gue mengejarnya, mencoba membuka pintu dan mengetuknya tapi taksi itu langsung berjalan pergi. Gue menunduk kesal dan saat ingin pergi dari tempat itu, semua mata pengunjung tertuju ke arah gue. Gue merasa menjadi pesakitan, dan berjalan dengan tertunduk lesu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *