Chapter 14

Bangun untuk sholat subuh berjamaah di masjid dekat kosan, secepatnya gue kembali untuk mempersiapkan diri berolahraga dan bertemu dengan Meira pagi ini. Dengan pakaian sporty nan trendi, gue bersiap untuk menikmati olahraga pagi di Kawasan Sudirman yang memang dikhususkan sebagai kawasan Car Free Day di setiap minggu pagi. Dari kosan gue diantar oleh babang ojek online dimana mata hari memang masih malu-malu untuk muncul di tempatnya.
Kawasan car free day sudah dipenuhi oleh lautan manusia yang mencari keringat di pagi hari. Ada yang berlari berkelompok dan ada juga yang hanya berjalan santai Bersama keluarga. Gue berjalan tepat kearah patung Jendral Sudirman, karena disanalah tempat janjian bertemu dengan Meira. Dari kejauahan sudah terlihat Meira mengenakan pakaian olahraga berdiri sendirian. Dia memang tidak melihat ke arah gue berjalan membuat gue berusaha mempercepat langkah agar segera melihat senyuman manisnya.
Tepat di sampingnya gue langsung menyapa, “Selamat pagi mbak cantik”.
Dia menoleh dan langsung tersenyum melihat gue berada di sampingnya.
“Adi!!!”, serunya.
“Hai, Mei. Udah lama di sini?”, tanya gue.
“Belum. Paling sekitar setengah jam berdiri kayak orang bego di sini”, jawabnya dengan nada bercanda.
“Ah, kamu bisa aja.” Gue membalas candanya.
“Yuk, mau jalan aja atau mau jogging?” tanyanya kepada gue.
“Jogging pagi gini enak kali ya.” Jawab gue.
“Ok, ayuk jalan”, dia mulai setengah berlari meninggalkan gue.
Gue mengikuti langkahnya dan mencoba mengimbangi kecepatan joggingnya. Setelah sekitar setengah jam kami berlari, dia mengajak berhenti karena melihat gue yang agak ngos-ngosan. Ini olahraga pertama yang gue lakukan setelah berhenti bermain futsal beberapa waktu lalu. Kami mencari tempat duduk di dekat penjual minuman yang berada di pinggir jalanan.
“Capek Di?”
“Ah, biasa aja. Ini belum seberapa”, jawab gue dengan nafas senin kamisnya.
Dengan tersenyum dia berkata, “sepertinya jawabanmu ga sama dengan nafas yang keluar”.
Gue tersenyum ke arahnya, tiba-tiba dia menyeka keringat gue yang bercucuran dengan handuk yang di bawanya. Dia tersenyum karena melihat tatapan kosong gue ke arahnya.
“Biasa aja kali Di”, serunya.
Gue menepuk muka dan berkata, “kirain aku mimpi”.
Dia tertawa dan menepuk pundak gue karena tidak kuasa menahan tawanya yang membuncah. Obrolan semakin seru sampai seorang pria yang selesai membeli minuman memanggil nama gue.
“Adi?”, serunya kea rah gue.
Gue melihat ke arah suara tersebut.
“Bener kan lu si Adi, yang kemarin ketemu gue di warung kopi”, lanjutnya.
“Hai, Jody kan?”, gue berdiri dan menghampirinya.
“Leia mana?”, tanyanya.
“Eh… gue ga janjian dengannya.”
“Lah, lu bukannya pacar Leia?”, lanjutnya bertanya.
“Belum bro, masih penjajakan.”
“Itu siapa?” dia melihat ke arah Meira.
“Teman”, jawab gue sambil melemparkan senyuman ke arah Meira dan dia pun balas dengan senyuman.
“bukan pacar?”
“bukan”, jawab gue santai.
“lah, bisa jalan bareng tapi bukan pacar”
“ya, namanya juga teman bro. Kan ga perlu rame-rame buat olahraga”, jawab gue enteng.
“Enak lu ya, bisa jalan dengan dua cewek berbeda. Gue iri bro”, ujarnya sambil menepuk pundak gue.
Gue hanya membalas dengan senyuman sinis sampai akhirnya dia berpamitan meninggalkan kami berdua. Meira tidak menanyakan tentang Jody kepada gue dan kami pun menikmati pagi yang cerah ini dengan kebahagian yang sama sebelum Jody mengganggu dengan kehadirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *