Chapter 13

Setelah menjalani pertemuan dengan Ayahnya, Leia mengajak gue ke sebuah warung kopi yang terkenal di daerah Jakarta Barat. Awalnya gue menolak untuk pergi, tapi karena dia memaksa akhirnya gue luluh dengan permintaan tersebut.

Seperti yang sudah gue perkirakan sebelumnya, warung kopi tersebut rame dengan pengunjung bahkan sampai ke area parkiran pun dipenuhi kursi pengunjung yang rela antri demi mendapatkan kesempatan mencoba kopi yang disajikan oleh penjual. Banyak anak muda yang berpakaian trendi di tempat ini, hanya ada beberapa pria yang berpakaian apa adanya seperti yang gue pakai hari ini.

Tiba-tiba Leia mengajak gue masuk ke dalam warung kopi, katanya sudah dapat tempat. Gue bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia bisa mendapatkan tempat padahal kami belum sampai semenit pun berada dalam antrian. Kami menuju lantai atas, dimana terlihat ada 2 tempat duduk kosong yang ditunjuk oleh pelayannya. Leia duduk terlebih dahulu, gue mengikuti setelahnya dan pelayan pun meninggalkan kami setelah menyerahkan menu yang sekarang berpindahtangan kepada Leia.

Setelah sepakat dengan pesanan yang akan kami nikmati, Leia memanggil seorang pria yang tidak telihat seperti pelayan warung kopi tersebut karena penampilannya yang sangat menawan dan beberapa kali terlihat mengajarkan pelayan-pelayan yang masih terlihat kikuk melayani pelanggannya. Pria tersebut mendekat dan menghampiri meja kami.

“Sudah lama?, sapanya kepada Leia.

“Makasih ya, udah ngasih kursinya.”, tukas Leia.

“Buat kamu apa sih yang ga bisa gue kasih.”, goda pria tersebut.

“Ih.. apa sih..”, Leia tersenyum. “Oh, iya. Kenalkan ini mas Adi”, Leia mengarahkan tangannya ke gue dan si pria langsung menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan diri.

“Hai, saya Jody.”, sapanya.

“Saya, Adi.”, gue menjabat tangannya.

“Jody ini yang punya warung ini mas, pengusaha muda sukses”, puji Leia kepadanya.

“Ga juga, belum sukse-sukse amat”, jawabnya.

Gue hanya bisa berkata, “keren mas”.

“Ok, dilanjut ya. Gue mau nerusin kerjaan dulu”, Jody meninggalkan kami berdua.

“Keren lho dia, dulu sempat kerja di Bank terus resign buka warung kopi ini”.

Leia sepertinya kenal dekat dengan Jody, tapi gue enggan untuk membahas lebih lanjut. Tapi Leia terus-terusan membahas tentang pria tersebut hingga membuat gue bersuara.

“Dia siapanya kamu?”.

“Ah… enggak”, jawabnya gelagapan.

“Sepertinya kamu sangat memujanya, memang hubungan kalian apa?”.

“Ih, Uda kenapa sih. Kita itu sekarang temanan doank, udah ga ada apa-apa”, jawabnya.

“Dulu ada apa-apa?”

Leia tersenyum, “dulu dia naksir aku, tapi aku tolak.”

“Oh..”, gue lega mendengarnya.

“eh, tapi kenapa kamu tolak?”, gue lanjut bertanya.

“Ih, si Uda. Cemburu ya?”, tanyanya genit.

“Nggak, aku hanya ingin tahu”, jawab gue.

“Gapapa sih Uda, aku dulu ga ada perasaan sama dia”.

“Sekarang?”, gue penasaran.

“Eh, kopinya udah nyampe. Cobain deh”, dia mengambil kopi yang kebetulan baru diantar oleh pelayannya.

Gue menyeruput kopi sambil memandang Leia yang juga sedang menikmati minumannya. Dia membuat gue penasaran kenapa mengajak minum di warung kopi yang dimiliki oleh pria yang dulu menyukainya. Ada alasan apa dibalik semua ini? Setelah beberapa tegukan gue mencoba menanyakan kembali perasaan Leia terhadap Jody dan dia tetap menjawab tidak ada perasaan apapun. Entah kenapa gue menjadi semakin penasaran, apakah gue sudah menyukai Leia atau hanya rasa ingin tahu yang membuncah? Entahlah, tapi gue mencoba untuk menjalani ini semua dengan logis bukan hanya dengan apa yang dirasakan dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *