Chapter 12

Pagi ini gue bersiap untuk menemui orang tuanya Leia seperti yang yang sudah kami janjikan sebelumnya. Gue memperhatikan setiap detail penampilan di cermin, tidak ada cela sama sekali dari pakaian yang dikenakan. Sedikit titik yang membuat gue terlihat kurang menarik, ada bejonlan tipis di pipi sebelah kiri. Ya, sebuah jerawat muncul menghiasi wajah yang tidak tampan ini. Sepertinya baru muncul pagi ini, masih perih kalau dipencet.

Gue memarkir motor di depan rumah Leia. Sebelum berjalan masuk ke dalam rumah, gue kembali memeriksa penampilan melalui spion motor, setelah meyakinkan penampilan barulah melangkah menuju pagar rumahnya. Ada seorang laki-laki tua duduk di halaman rumahnya. Gue membaca salam dan laki-laki tersebut menyahut kemudian berdiri menghampiri.

“Nyari siapa nak?”, dia bertanya.

“Mau bertemu Leia, Pak.”, jawab gue.

“Oh, ada. Tadi di dalam sama ayahnya”, ujarnya sambil membuka pintu pagar.

Gue masuk dan menyalami laki-laki tua tersebut. Dia menuntun masuk menuju ruang tamu. Dia mempersilahkan gue duduk dan masuk ke dalam rumah. Tidak beberapa lama Leia terlihat muncul  membawakan minuman dari arah dalam dengan senyuman manisnya yang khas. Dia hanya bilang tunggu sebentar dan langsung kembali ke dalam dan barulah seorang laki-laki yang lebih muda dari laki-laki sebelumnya datang muncul dari arah dalam. Sepertinya ini ayahnya Leia karena terlihat lebih muda dengan potongan rambut klimisnya namun kumis tebalnya mengesankan penampilan yang berwibawa.

“Selamat pagi om, tante”, gue berdiri dan menyalaminya.

“Silahkan duduk”, katanya sembari membalas salam gue. “Kamu Adi ya?”

“Iya om.”

“Saya ayahnya Leia.”, dia memperkenalkan diri. “Sudah berapa lama kamu kenal dengan anak saya?”

“Baru om, sekitar 1 bulan”.

“Oh, belum lama. Sudah sedekat apa kalian?”, tanyanya lagi.

“Lumayan dekat om”.

“Kalian pacaran?”

“Eh.. uh, nggak om”, jawab gue terkejut karena pertanyaannya.

“Jadi gini, Leia itu itu sudah 25 tahun. Om ingin menikahkan dia secepatnya. Karena usia segitu di keluarga kami sudah saatnya untuk berumah tangga. Om sudah bertanya kepada Leia, kalau mau menjalin hubungan sama pria harus yang benar-benar mau serius sama dia. Kamu mau serius sama Leia?”, jelasnya.

“Maksudnya om?”, tanya gue kebingungan.

“Kamu suka sama Leia?”

“Ehm,……”, kemudian gue terdiam.

“Kalo kamu tidak suka sama Leia, tidak apa-apa. Tapi jangan kasih harapan apapun kepadanya. Sepertinya dia menganggapmu serius dengannya.”

“Maaf om, bukan bermaksud seperti itu. Saya akui, Leia sangat cantik dan menarik tapi kita baru kenal 1 bulan dan saya belum terlalu mengenalnya. Saya perlu waktu untuk mengenalnya lebih jauh.”, terang gue kepadanya.

“Hm.. Om mengerti, baiklah kalau begitu. Om, akan memberikan kalian waktu untuk saling mengenal. 2 bulan, jika kamu memang tidak serius dengannya sebaiknya sampaikan langsung kepada Leia.”

“Baik om, terima kasih .”

“Oh iya, silahkan diminum tehnya.”, dia menunjuk ke arah gelas yang tadi diberikan oleh Leia.

Gue mengambil gelas yang berisi teh tersebut dan langsung menyeruputnya. Terlihat Ayahnya Leia masih melirik ke arah gue nan mata kami bertemu. Gue jadi salah tingkah dan meletakkan gelas kembali di atas meja. Leia keluar dari arah dalam, dia meminta ijin kepada ayahnya untuk mengajak gue pindah ke depan. Gue pamit kepada ayahnya dan saat bersalaman tangan ayahnya menggenggam erat dengan tatapan yang kuat dia berbisik, “ingat apa yang om katakan kepadamu, 2 bulan!!”.

Setelah tangan gue terlepas, Leia meminta gue mengikutinya untuk berpindah posisi ke halaman depan. Dia menjelaskan bermacam tanaman yang ada di situ, tapi gue sama sekali tidak mendengarkan apa yang disampaikannya. Gue memikirkan apa yang diminta oleh ayahnya, apakah bisa dalam 2 bulan mengenal Leia lebih jauh? Apakah bisa mencintainya dalam 2 bulan ke depan? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *