Pertemuan Mengesankan

Sore ini gue sudah menunggu si “Gadis Busway” di Kuningan City. Dengan sabar gue menanti kehadirannya dan sudah waktu pun sudah lewat dari yang dijanjikan. Hati kecil pun sudah meminta kaki untuk melangkah pergi karena tak ada kabar dan berita darinya.

“Hai Adi!!”, terdengar suara memanggil dari arah belakang.

Gue menoleh ke belakang, terlihat si “Gadis Busway” tersenyum sambil melambai. Dia berjalan maju sampai jarak kami tidak lebih dari 1 meter.

“Aku Meira.”, dia memperkenalkan dirinya.

Gue mengangguk pertanda mengerti maksud dia.

“Lah, kok ga semangat? Kelamaan nunggu ya? Maaf ya, tadi aku sholat dulu. Kamu udah sholat? Kamu muslim kan?”, lanjutnya tanpa ada rem dari setiap pertanyaannya.

Gue menjadi salah tingkah, “Iya, aku sholat dulu ya. Kamu tahu tempatnya di mana?”.

“Ayo ikut aku, tadi aku sholat dulu sebelum ketemu kamu.”, dia berjalan di depan gue dengan langkah yang terbilang cepat untuk ukuran perempuan.

“Ayo, buruan. Keburu habis waktunya”. Tegurnya melihat langkah gue yang kurang bersemengat.

Sesampai di musholla, dia mempersilahkan masuk dan memberitahu akan menunggu di sebuah kafe. Gue masuk untuk menunaikan sholat dan dia pun berjalan meninggalkan. Setelah selesai sholat, gue menuju kafe tempat Meira menunggu. Gue langsung menghampiri dia yang duduk sambil asyik bermain ponsel.

“Hai, boleh duduk”, tegur gue.

Dia menoleh, “Hai, ya duduklah. Kan aku nungguin kamu”. Dia tersenyum. “Kamu tadi nungguin dari jam berapa? ga bete kan nungguin aku?”, lanjutnya bertanya.

“Belum terlalu lama, lagian mana mungkin bete kalau ingin ketemu sama yang kita impikan”, gue mencoba menggodanya.

“Yaelah, impikan? emang aku apaan?, ada ada aja sih.”

“Terima kasih ya sudah mau ketemu.”

“Kenapa kamu mau datang? Bukannya yang menelpon bukan kamu?”,

“Maksudmu?”, gue balik bertanya.

“Aku tau yang menelpon malam itu bukan kamu. Kamu ga seluwes itu, kamu kaku.”

Gue terdiam dan hanya bisa menatapnya.

“Gapapa, jujur aja. Buatku tidak masalah, karena kamu sudah datang hari ini.”, dia tersenyum.

“Jujur, itu memang bukan aku karena aku tidak punya keberanian menghubungi walau sebenarnya ingin sekali menelponmu. Maafkan aku.”, itu pembelaan yang bisa gue sampaikan.

“Lalu, kenapa kamu mau bertemu denganku?”, lanjutnya bertanya.

“hm.. aku tertarik denganmu.”, jawab gue sambil menatap matanya.

Dia terlihat terkejut tapi berusaha untuk terlihat santai kemudian tersenyum. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia memberi kode untuk mengangkat telepon tersebut dan gue mempersilahkan. Dia meninggalkan kursinya dan berjalan menjauh. Tidak lama dia pun kembali ke tempatnya.

“Maaf, tadi ada telepon dari temanku. Aku harus pergi sekarang.”

“Ada apa?”, gue bertanya kepadanya.

“Ada urusan mendadak, aku harus menemuinya sekarang.”

“Mau aku antar?”, gue menawarkan diri.

“Tidak usah, aku bisa sendiri.”, jawabnya tersenyum sambil merapikan barang-barangnya.

Setelah dia merapikan semua barang bawaannya. Dia pamit untuk pergi sambil berkata, “semoga kita bisa bertemu lagi”. Setelah dia pergi, gue mulai menyeruput kopi yang dari tadi sama sekali belum sempat tersentuh. Kopi di kafe ini ternyata nikmat ditambah alunan musik dengan volume yang rendah menambah kedamaian dalam setiap tamu yang ada di ruangan ini.

Gue menatap ponsel yang berada di tangan, mencari foto Leia dan mencoba untuk membandingkannya dengan Meira. Mereka sama-sama menarik, dari segi fisik tidak ada kekurangan dari keduanya. Meira semakin mengesankan saat dia mengingatkan gue soal sholat. Sepertinya dia akan jadi pendamping yang baik bagi gue di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *