Bimbang

Pikiran yang kalut ditambah udara yang terasa semakin dingin menambah lengkap penderitaan malam ini. Suasana sepi yang gelap dan semilir angin jadi latar yang pas untuk berpikir apa yang harus gue lakukan. Gue suka sama Leia, tapi untuk bertemu orang tuanya belum ada kesiapan di diri ini. Belum lagi ada wanita lain yang mengusik pikiran ini. Ya, wanita di busway itu sedikit banyak selalu berputar putar di otak ini.

Ditengah otak yang sedang berputar, tiba-tiba pintu kamar digedor dengan kerasnya. Gue bergegas untuk membuka pintu. Terlihat Bang Fathur tetangga kamar kosan yang berbadan tegap berkulit sawo matang berdiri di hadapan, dia langsung melongok ke arah kamar mandi dan menghentak gue.

“Woi, Adi. Lihat air lu jalan terus. Lu ga matiin airnya. Hemat air donk, goblok”, katanya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

Gue terperanjat dan melihat ke arah kamar mandi, kemudian berlari untuk mematikan keran air yang masih menyala lalu kembali.

“Aduh, maaf Bang. Perasaan tadi udah gue matiin. Kok masih nyala ya?”, kilah gue.

“Makanya jangan banyak pikiran. Lu lagi mikirin apaan sih? Pasti cewek nih. Kalau kosong gini pasti cewek dah. Yakin gue. Bener ga?, dia mencoba menerka.

Gue mengangguk.

“Lu cerita deh sama gue, siapa tahu gue bisa ngasih solusi”.

Tanpa pikir panjang gue menceritakan semua yang jadi beban pikiran selama ini. Mulai dari Amak yang meminta dikenalkan dengan “kekasih” gue sampai kepada permintaan Leia dan wanita busway yang sepertinya juga tertarik sama gue.

“Ok, sekarang lu bingung mana yang mesti lu pilih?”, Bang Fathur bertanya.

Gue mengangguk.

“Ngapain pusing, lu jalanin aja dua-duanya. Lu datangin bokapnya Leia, trus lu telepon juga tuh cewek di busway. Lu jalanin dua-duanya, ntar mana yang paling sreg baru lu ketemuin ama nyokap lu.”, Bang Fathur memberi saran.

“Etis begitu bang?”, tanya gue polos.

“Lah, kalau menyangkut hati ga usah ngomong etis deh. Sebelum janur melengkung, lu bebas buat milih siapapun. Asal jangan cewek gue aja, tak getok palalu.”, jawabnya seraya mengepalkan tangannya.

“Gue pikirin dulu deh bang”,

“Ini ponsel lu ya?” dia memperlihatkan ponsel gue yang berada di tangannya. Entah kapan dia mengambilnya.

Dia membuka ponsel gue yang memang cukup di slide saja untuk membukanya. Dia fokus membuka-buka aplikasi yang ada. Kemudian dia tertawa.

“Ini “Gadis Busway” di contact lu si wanita itu? Hahahhaa.. kocak banget”, tawanya semakin keras.

Gue hanya bengong melihat kelakuan Bang Fathur.

Tiba-tiba dia menghubungi nomor wanita busway dan meletakkan ponsel di telinganya. Gue reflek untuk mencoba mengambil ponsel darinya, tapi karena badannya lebih besar ponsel tetap berada ditangannya. Sepertinya telepon tersambung ke seberang.

“Halo, selamat malam. Ini Adi, masih ingat?”, Bang Fathur berpura-pura jadi gue.

Bang Fathur berkata, “Iya”, “Iya”, “Ok”, “Iya” dan “sampai ketemu besok sore” sebelum menutup telepon tersebut.

“Urusan lu yang satu sudah terselesaikan. Besok lu ketemu dia di Kuningan City jam 6.30 sore. Jangan sampai lu ga datang, bikin malu gue aja.” katanya sambil menyerahkan ponsel kepada gue.

Gue bengong.

“Ga usah jadi pikiran amat. Jalani aja, kalau cocok lanjut. Kalau ga cocok, temuin bokapnya Leia. Gitu aja kok repot”, tukas Bang Fathur meninggalkan kamar gue.

Gue masih dalam posisi kebingungan tentang apa yang terjadi, melihat ponsel yang ada di tangan. Ingin menelpon wanita itu kembali tapi ga tahu mau ngomong apa. Mungkin nasihat Bang Fathur perlu gue lakukan, toh setiap langkah tidak ada salahnya untuk dicoba agar menemukan hasil yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *