Karma??

Menghabiskan malam bercengkrama bersama orang yang spesial itu menyenangkan, itulah yang gue rasakan dalam beberapa hari ini. Leia rutin menghubungi untuk sekedar ngobrol dan tertawa sampai mata ini benar-benar lelah dan telepon terputus dengan sendirinya. Ingin rasanya untuk menyatakan perasaan kepada Leia, tapi entah mengapa masih ada yang mengganjal dalam hati ini.

Hubungan gue dengan Leia sampai saat ini hanyalah sebagai teman ngobrol di telepon tidak lebih dari itu. Beberapa kali gue mengajak dia untuk bertemu, namun selalu saja alasan yang diberikannya. Sebagai pria yang belum berpengalaman, gue terpaksa menunggu sampai dia mengajak gue untuk bertatap muka kembali.

Dan waktu yang ditunggu pun datang, Leia mengajak gue bertemu selepas kerja. Katanya ada yang ingin disampaikan dan tidak etis kalau via telepon. Gue menyanggupi dengan semangat tinggi karena gue sudah berencana untuk menyatakan perasaan kepadanya.

Kami bertemu di salah satu Mall di daerah Mega Kuningan, Leia hari ini terlihat jauh lebih ceria dari terakhir kali kami bertemu, senyuman manisnya seperti menyatakan bahwa tak ada beban berat lagi yang dipikulnya. Beberapa kali dia melempar jokes yang membuat dia tertawa sendiri. Beberapa saat kami berjalan, Leia berhenti dan ingin ke toilet. Leia masuk ke arah toilet dan gue menunggu di depan. Tiba-tiba gue melihat dua orang wanita keluar dari toilet dan salah seorang dari mereka sangat familiar. Salah satu wanita itu tersenyum dan menghampiri.

“Hei, kamu Adi kan? Jadi, sekarang kamu jadi penguntit?”, dia menegur.

“Iya aku Adi, kok penguntit? Aku lagi nungguin orang”.

“Oh, udah punya pacar sekarang? pantesan udah ga minta nomor ponsel pas lihat aku”.

Sekarang gue ingat, dia wanita yang gue minta nomor ponsel saat di busway, yang bilang kalau jodoh pasti bertemu kembali. Gue langsung salah tingkah karena temannya yang berada di belakang tertawa melihat tingkah gue.

“Ah, bukan pacar. Aku nungguin teman baru masuk.”

“Sini!!”, dia mengulurkan tangannya.

Gue terdiam dan dia sepertinya mengerti ketidakpahaman ini dan berkata, “Sini ponselnya,  aku kan pernah bilang kalau kita bertemu lagi akan kasih nomor ponselku.”

“Oh”, gue mencari ponsel yang ada di saku dan memberikan kepadanya.

“Sudah”, dia mengembalikan ponsel dari tangannya.

Gue melihat nomor yang disimpannya, tertulis “Gadis Busway” dengan sebuah nomor. Dia menatap gue dan berkata, “Kali ini nomornya dulu, nanti kalau kita bertemu lagi, akan kasih tahu nama aku”.

Gue mengangguk seperti orang bodoh yang dikerjai, temannya tertawa terpingkal-pingkal dan mereka berlalu dari pandangan tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Tidak beberapa saat, Leia keluar dari toilet dan mengajak makan dan dia meminta gue memilih tempat yang terbaik. Gue mengajaknya untuk makan di Pecel Lele pinggir jalan dan sepertinya dia menurut dengan pilihan tersebut.

Keringat mengucur menikmati sambal pecel yang mahadahsyat, Leia terlihat lahap menyantap makanan yang ada di piringnya. Sesekali terlihat kepedasan dan sudah meminta 3 gelas minuman untuk menghilangkan rasa pedas di lidah. Setelah semua makanan ludes tak bersisa, barulah gue bertanya tentang apa yang ingin disampaikannya.

“Kamu mau ngomong apa?”, gue membuka pembicaraan kami.

Sambil mengusap keringat di dahinya dia berkata, “Uda ingat kan kalau aku ingin nikah secepatnya. Kemari ayah bertanya kepadaku, apakah sudah ada calon yang akan dikenalkan kepada beliau. Dan aku mau Uda bersedia untuk dikenalkan kepada Ayah.”

Gue terdiam.

“Tapi kalau Uda keberatan, aku ga memaksa”, dia melanjutkan seakan mengerti apa yang gue pikirkan.

“Aku tidak ada masalah untuk bertemu dengan ayahmu, tapi kalau nanti ditanya soal pernikahan aku mau jawab apa?”

“Aku mengerti, Uda tidak perlu memikirkan soal itu karena Uda pasti belum mengenal aku sepenuhnya begitupun sebeliknya. Yang penting bertemu dulu, selanjutnya kita pikirkan nanti”

“Baiklah, aku percaya denganmu.”

“Terima kasih Uda”, dia melemparkan senyuman manisnya.

Gue membalas senyuman itu namun sepertinya agak kecut. Sepertinya gue terjebak dalam permainan sendiri. Niat memilih wanita hanya untuk dikenalkan kepada Amak di kampung, malah gue yang bakal dikenalin kepada Ayahnya Leia.

————————————-

1 thought on “Karma??

  1. Udah lumayan, msh sedikit kaku, dan ada bbrp pengulngan kata pd satu kalimat, tp terlepas dr itu semua oklah, apa mo dikasih nilai nih? 😂😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *