Kesempatan?

Cerita sebelumnya

Baru beberapa putaran gas meninggalkan area parkiran motor, ponsel yang berada di kantong celana mendadak bergetar. Awalnya tidak gue hiraukan karena makin lama getarannya tidak kunjung berhenti akhirnya gue menepi sejenak untuk mengangkat telepon. Nomor yang muncul bukanlah nomor yang dikenal.

“Halo”, gue menyapa.

“Uda, ini aku Leia”,

Dada gue terasa sesak mendengar suara Leia di ujung telepon. Gue mencoba untuk membuat menetralkan suasana dan mengatur suara yang akan keluar. Terdiam sejenak dan Leia kembali bersuara.

“Uda, uda dimana?”, tanyanya.

“Sudah di jalan pulang.”, jawab gue lirih.

“Udah jauh da?”, nada sedih terdengar dari ucapannya. “Uda bisa jemput aku lagi?” lanjutnya.

“Masih perlu aku yang jemput?”, tanya gue dengan suara agak meninggi.

“Uda… Maafin aku, aku minta tolong. Tolong jemput aku”, suaranya sudah mulai terdengar berat dengan sedikit isakan tangis.

Gue terdiam sejenak dan berkata, “Oke, tunggu aku di lobby.”

Gue langsung menutup ponsel dan secepat kilat memutar arah kembali ke Epicentrum. Tidak butuh waktu lama sampai motor terparkir dengan rapi, gue mengarah ke lobby dan di sana terlihat Leia duduk sendirian dengan kepala tertunduduk..

“Leia…”, gue memanggilnya saat berdiri tepat di depannya.

Dia menoleh dan langsung melompat memeluk gue sambil menangis dengan dahsyatnya. Gue kebingungan, karena ga tahu apa yang mesti dilakukan dan hanya bisa bertanya, “ada apa?”.

Dia masih saja terus menangis di pelukan dan semua mata pengunjung lewat tertuju kepada kami. Gue menjadi salah tingkah dan mencoba menenangkan Leia agar berhenti untuk menangis. Setelah tangisnya mulai mereda, gue mengajaknya untuk turun ke area parkiran. Dia setuju dan kami langsung pergi meninggalkan kawasan Epicentrum.

Di motor dia hanya terdiam sambil memeluk pinggang gue dengan erat. Karena merasa dia masih sedih, gue berinisiatif untuk mengajaknya ke Taman Situ Lembang yang berada tidak jauh dari Epicentrum. Siapa tahu dengan suasana taman yang sejuk dia akan merasa lebih baik.

Sesampainya di taman, gue mengajaknya untuk berjalan mengitari kolam sambil menanyakan masalah yang dia hadapi sehingga membuatnya menangis seperti itu.

“Kamu kenapa? Bukankah mereka tadi teman kamu?”, tanya gue.

“Iya da. Yang cowok mantanku dan yang cewek dulu teman baikku,”. jawabnya.

“Lalu, kenapa kamu menangis?, apa yang membuatmu bersedih?”, gue memang ga mengerti apa yang sedang terjadi.

“Mereka jadian, da. Dan…”, dia berhenti karena air mata yang mulai keluar lagi dari matanya.

Gue memberikan sapu tangan yang ada di saku untuk menghapus air matanya.

“Mereka jadian sebelum dia putus denganku dan sekarang mereka mau menikah.”, lanjutnya.

Sekarang gue mulai mengerti masalahnya, sebisanya gue mencoba untuk menghiburnya sampai kesedihan benar-benar hilang. Sekitar 3 jam kami bercengkrama di taman tersebut, sampai senyuman kembali muncul di mukanya.

“Ayo kita pulang, kamu mau diantar pulang atau gimana?”, tanya gue.

“Kita berpisah di sini aja Da, aku pulang naik taksi saja”.

“Ya sudah, ayo kita cari taksinya. Biasanya mereka mangkal tidak jauh dari sini”.

Memang tidak jauh kami berjalan untuk menemukan taksi yang sudah siap untuk membawa penumpangnya. Di depan pintu taksi sebelum dia masuk, Leia kembali memeluk gue sambil berbisik.

“Uda, terima kasih. Kalau tadi Uda ga jemput, aku ga tahu seperti apa”.

Kali ini gue sudah bisa menguasai diri dan membalas pelukannya, “iya, kamu hati-hati. Jangan sedih, kalau butuh apa-apa hubungi aku saja.”

Leia melepaskan pelukannya kemudian masuk ke dalam taksi lalu taksipun segera menghilang dari pandangan dan meninggalkan gue yang harus mengambil motor agar dapat menikmati malam yang indah di kosan tentunya akan meluangkan waktu menelpon Leia dengan alasan menanyakan keadaanya malam ini.

——

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *