Kencan Pertama

Setelah beberapa kali hanya berhubungan lewat telephone, akhirnya gue memberanikan diri untuk mengajak Leia jalan bersama. Siang hari gue telah menunggu di tempat yang sama saat kami pertama bertemu. Ya, restoran cepat saji yang sangat digemari oleh kawula muda masa kini. Secangkir minuman bersoda sudah cukup untuk mendapatkan wifi gratis yang akan membuat pengunjung betah berlama-lama di dalam restoran.

Sekitar 30 menit menunggu, Leia mengabarkan untuk mengganti tempat bertemu di Mall Epicentrum di ruang tunggu bioskop. Dengan setengah berlari, gue bergegas menuju tempat Leia berada. Leia terlihat mengenakan pakaian bernuansa biru yang membuatnya terlihat lebih manis dari terakhir kami bertemu. Dia menyambut gue dengan senyuman manisnya dan langsung menyapa.

“Hai uda, apa kabar?”

Gue mengernyitkan dahi ke arahnya, seolah mengerti kebingungan gue dia langsung berkata.

“Gapapa kan aku panggil kamu Uda. Secara kan, kamu dari Padang dan lebih tua dari aku”,

“Oh.. kirain kenapa manggil uda tiba-tiba”, jawabku.

“yuk Da, aku udah pesan tiket buat nonton. Mau kan ya?”, dia menarik lengan baju gue sambil memperlihatkan 2 tiket film di tangannya. Gue memberikan senyuman pertanda setuju kepadanya. Dia langsung mengajak gue menuju studio.

Sesekali gue melirik ke arah Leia yang berada di samping kiri. Dia terlihat bahagia menikmati film yang sedang berlangsung, beberapa kali dia memperlihatkan senyuman manisnya saat gue kepergok memberikan lirikan.

Setelah pemutaran film selesai, gue mengajaknya untuk menutup pertemuan kami dengan makan sebelum beranjak pulang. Dia setuju dan membawa gue ke sebuah restoran yang belum pernah gue datangi. Dia membawa gue ke tempat duduk yang berada di area non smoking, sepertinya dia memang sudah sangat mengenal restoran ini. Setelah duduk, dia langsung memanggil pramusaji dan memesan makanan tanpa bertanya kepada gue. Sesaat setelah pramusaji beranjak dari meja gue dia berkata.

“Uda, ga masalah kan pesanannya aku yang pilihin?”

“Oh. Gapapa. Apa yang enak menurut kamu, pasti enak”,

“Cobain deh, pasti enak. Aku paling suka menu itu di restoran ini”, katanya lagi-lagi memberikan senyuman yang membuat hati ini bergetar. Gue membalas senyuman itu dan mengalihkan pembicaraan tentang film yang kami tonton sebelumnya.

Pramusaji datang mengantarkan makanannya, seperti wanita milenial lainnya Leia mengabadikan semua makanan yang belum disantap sebelum memperbolehkan gue untuk menikmatinya. Setelah puas dengan kamera ponselnya, dia memotong tipis daging yang ada di piringnya lalu menusuknya dengan garpu dan tiba-tiba tangannya terulur ke arah mulut gue.

“Uda, dicobain dagingnya. Ini enak lho.”, katanya sambil menyuapkan daging yang ada di garpunya.

Muka gue memerah, jantung gue berdebar dengan dahsyatnya dan tangan gue gemetaran jauh melebihi saat sidang skripsi yang waktu hampir membuat gue jatuh pingsan di hadapan para dosen penguji. Gue membuka mulut dan tangannya langsung memasukkan daging tersebut ke dalam mulut gue.

“Enak?”, dia bertanya.

“Hm.. enak banget”, walau mulut gue hanya merasakan rasa yang tidak begitu spesial.

“Ini restoran kesukaan aku uda dan ini menu favorit aku di sini”, katanya sambil memegang piring.

“Iya di sini enak.”, gue tersenyum ke arahnya dan dia membalas senyuman itu.

Kami menikmati makan sore itu dengan tenang sampai tiba-tiba sepasang pria dan wanita menghampiri kami berdua. Gue memperhatikan sosok Pria klimis berbadan tegap dan wanita berkulit putih, rambut panjang sebahu dengan pakaian yang agak minim. Si pria memeberikan memperhatikan gue dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Gue gelagapan dan ikutan melihat ke arah kaki gue dan sepertinya tidak ada yang salah. Sedangkan yang wanita menatap ke arah Leia.

“Ini pacar baru lu, Lei?”, tanya si wanita.

Leia berdiri dan beranjak dan berlari keluar dari restoran. Gue yang kebingungan dalam situasi ini hanya berusaha bertanya kepada pasangan tersebut.

“Ini ada apa ya?”, tanya gue kepada mereka.

“Gapapa bro, tunggu di sini ya”, si pria menjawab gue lalu berlari mengejar Leia.

“Ih, Mas. Kamu kemana, kok aku ditinggal”, si wanita memanggil si pria kemudian dia melirik ke arah gue.

“Lu siapanya Leia?”,

“Teman”, jawab gue singkat.

“Oh.. kirain pacarnya.”

“Kalian siapa?”, tanya gue kepadanya.

“Gue temannya dan yang tadi itu mantan pacarnya”, jawabnya.

Dor, gue serasa ditembak Colt 1911, pistol yang berisi 7 buah peluru dan setiap satu butirnya bisa dimuntahkan dengan kecepatan 1.225 kaki per detik. Gue merasa kerdil, seperti tidak pantas untuk mengharapkan Leia untuk menerima perasaan yang ada di hati ini. Gue tertunduk lemas menuju kasir untuk membayar makanan meninggalkan wanita itu berdiri sendirian. Leia dan pria yang mengejarnya tidak ada di luar restoran. Gue mencoba untuk menghubungi Leia melalui ponselnya, namun tak ada jawaban. Akhirnya gue memutuskan untuk kembali ke kosan menenangkan pikiran dan perasaan yang terguncang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *