Dicomblangin

Dokumen menumpuk adalah hal yang biasa di Senin pagi. Omelan dari atasan juga menjadi sarapan yang lumrah saat deadline kerjaan semakin mendekat. Namanya kerja untuk hidup, apapun yang terjadi harus tetap kuat dalam menjalani setiap masalah yang dihadapi di lingkungan kerja. Sedikit demi sedikit dokumen yang menupuk dipilah untuk segera diselesaikan, saat melihat beberapa dokumen ada secarik kertas CV dalam tumpukan. Gue perhatikan dengan seksama namun CV tersebut menginformasikan mengenai nama, alamat dan hal-hal yang disukai. Di pojok kanan kertas tersebut ada note dengan tulisan “Erika”. Mata gue langsung tertuju kepada Erika yang duduk di pojok kanan. Gue harus menanyakan apa maksud dan kertas ini. Agar terlihat tetap bekerja, gue memutuskan untuk menelpon dia dari meja gue. Setelah 4 kali deringan telpon, Erika mengangkat telpon dari gue.

“Halo, Erika ini Adi”

“Oh, iya mas Adi, ada apa ya?”

“Saya nemuin kertas CV di meja saya, tapi kok sepertinya bukan CV dan ada note nama kamu di pojokannya. Maksudnya apa ya?”

“hehehehe, itu permintaanya mbak Angel mas. Katanya mas Adi minta dikenalin sama teman gue”. dia menjawab sambil sedikit tertawa. “Jadi, beneran masih jomblo mas?”, lanjutnya.

“Trus, gue harus apa nih?”

“Coba dibaca dulu mas, kalau mas tertarik sama kriterianya nanti gue kirim fotonya via email. Gimana?”.

“kriterianya sih ga ada masalah, bisa dikiriman fotonya”

“Ok mas, tunggu sebentar”. tidak beberapa dia melanjutkan, “sudah, coba dilihat mas”, pintanya.

Gue melihat email di komputer, langsung membuka email dari Erika dan melihat foto yang dikirimkan. Foto seorang wanita muda memakai jilbab sedang tersenyum manis sehingga terlihat lesung pipinya yang membuat dia semakin menarik. Kulitnya putih bersih dengan sedikit polesan make up membuatnya terlihat seperti model kosmetik halal yang terkenal.

“Mas, gimana?”, Erika yang diseberang telpon mengagetkan gue.

“Wah, ini kecakepan buat gue. Dia mau ga nih sama gue.”, ada nada pesimis dari ucapan gue.

“Yah mas, belum juga dicoba lagian dia nyari yang mau serius. Baru putus ama cowoknya, orang awak pula. Cocok kan sama kriteria mas Adi”, Erika mencoba memberikan semangat.

“Ok deh, gue coba dulu. Ketemuannya kapan?”

“Nanti sore, gue atur pertemuannya mas. Gue kabari detailnya setelah dapat info dari dia.”

“Oh iya, namanya siapa ya?”

“Leia, Leia Putri Chaniago mas.”

“Leia… nama yang bagus, semoga dia mau jadi pacar gue”,

“Hehehe.. ok deh mas kalau begitu.” Erika menutup telpon di seberang dan tinggallah gue yang masih melihat foto yang ada di komputer sambil memikirkan akan seperti apa pertemuan dengan Leia sore ini.

——————————————–

Akhirnya sore yang gue nantikan datang juga, tempat janjian di restoran cepat saji Plaza Festival. Erika sudah memberikan nomor telpon Leia dan deskripsi pakaian yang dikenakan Leia pada hari itu.

Gue masuk ke dalam restoran tersebut, lalu melihat ke sekeliling. Sepertinya Leia belum datang, gue mencari tetap duduk yang terlihat nyaman untuk berbincang.  Untuk mengusir kebosanan, gue memainkan ponsel membuka aplikasi instagram. Tidak beberapa lama, terlihat seorang wanita dengan deskripsi yang disebutkan oleh Erika. Ya, Leia dengan dengan anggunnya berjalan ke arah gue. Sesampainya di meja, dia langsung menyapa.

“Hai, mas Adi ya?”, tegurnya.

“I..iya, ka.. mu Leia?”, seperti biasa, gue gelagapan kalau pertama kali bicara dengan wanita.

“Iya, aku Leia, boleh duduk”, pintanya.

“Oh… iya.. silahkan”, saking gelagapannya gue lupa untuk mengulurkan tangan dan mempersilahkan dia duduk.

“Sudah lama mas?”,

“Baru, baru aja nyampe”, gue sedikit berbohong dan sudah bisa menguasai keadaan.

Kami berbincang lumayan lama, dari basa basi busuk sampai kepada asal usul. Dari situ gue bisa tahu kalau dia punya nasib yang sama, dia juga diminta menikah oleh orang tuanya namun pacar sebelumnya belum siap untuk menikah. Itulah alasan dia mau menerima tawaran dari Erika untuk dikenalkan dengan gue.  Jujur, dia sangat menarik, pribadinya supel dan kalau mau mencari kekurangannya harus menggunakan bantuan detektif saking susahnya. Setelah puas mengobrol, Leia pamit untuk pulang dan gue mencoba menawarkan untuk mengantarnya naik motor. Awalnya dia menolak, namun akhirnya luluh juga.

Saat menaiki motor, dia langsung memegang pinggang gue yang membuat bulu kuduk berdiri. Ini pertama kalinya membonceng wanita dalam hidup gue. Gue membawa motor lebih pelan dari biasanya, bukan karena ada Leia di belakang melainkan jalanan yang memang kurang bersahabat untuk memacu laju motor. Saat jalanan agak longgar, gue mencoba menarik gas lebih dalam namun cengkraman Leia di pinggang yang semakin erat seolah memberi isyarat agar memperlambat laju motor. Sekitar hampir satu jam akhirnya kami sampai di depan rumahnya dia turun dari motor dan sambil memberikan helm dia berkata, “Terima kasih Mas, sudah menemani sore ini”

“Iya, sama-sama.”, jawab gue sambil mengambil helm yang dia berikan.

“Sampai ketemu lagi ya mas”.

“Ga malu jalan sama aku?”, tanya gue.

“Apaan sih mas”, dia terlihat grogi.

“Hehehe.. soalnya kamu cantik banget”, gue tersenyum memujinya.

“Ga lah mas, kan berteman boleh sama siapa aja”.

“Iya ya..”,

“Ok mas, kalau gitu aku masuk dulu ya mas.”, dia ijin untuk masuk.

“Oh.. iya.”.

“Hati-hati mas”. dia berkata kemudian berbalik ke arah rumah.

Namun gue teringat sesuatu, “Leia, kamu sudah punya nomor ponselku?”.

Leia berbalik, lalu tersenyum dan kemudian mengangguk.

“Nanti kalau aku telpon diangkat ya?”,

Dia mengangguk lagi sambil tersenyum.

“OK, hati-hati masuk rumahnya ya, jangan kesandung”, gue berkata sambil memberikan senyuman  paling manis yang bisa keluar dari mulut gue.

sambil tersenyum dia berkata, “Iya mas, aku masuk ya.”, lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah dan menghilang dari pandangan.

Gue meletakkan helm yang tadi dipakainya, masih ada wangi yang tertinggal. Gue tersenyum, sepertinya ada harapan yang diberikan oleh Leia dan yakin akan ada gadis yang akan gue kenalkan kepada Amak pada saat Putri menikah nanti.

—————————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *