Kalau Jodoh Pasti Bertemu

Sabtu pagi yang ceria disambut indahnya fajar yang mulai menyingsing. Kicauan burung seolah alunan seriosa yang menambah semarak pagi yang cerah ini. Dari selesai subuh sampai matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, gue bolak balik mencari baju yang pas untuk dipakai siang ini. Hari ini adalah hari bersejarah buat gue, hari dimana pertama kalinya jalan berdua dengan seorang wanita. Ya, setelah beberapa kali teleponan dan kirim pesan akhirnya gue memberanikan diri untuk mengajak Tania bertemu hari ini. Gue berencana untuk menghabiskan sabtu ini di Kebun Binatang terkenal di Jakarta.

Setelah menemukan pakaian yang cocok dan nyaman, gue memesan ojek online sebagai sarana paling aman untuk menuju Halte Busway terdekat. Memang gue sengaja untuk tidak membawa motor karena gue ga bisa memprediksi kapan gue akan pulang. Abang ojek sudah siap menjemput dan gue langsung turun dari kamar kosan yang ada di lantai dua untuk segera berangkat. Tidak lama, gue sudah sampai di Halte Cempaka Putih dan setengah berlari gue mengejar bus yang terlihat akan berhenti di halte.

Gue sempat berpikir bus akan sepi dari pelanggan, ternyata hari sabtu bukanlah hari tenang di Jakarta. Memang antrian tidak terlalu panjang, namun di dalam bus harus agak berdempetan dengan pelanggan lainnya. Bus berjalan dengan cepat dan tanpa terasa gue sudah berada di Halte Sentral Senen untuk berpindah ke arah Kampung Melayu. Memang akan banyak koridor busway yang akan dilewati untuk menuju Ragunan, dari Senen gue akan naik ke arah Kampung Melayu lalu turun di Matraman dan mudah-mudahan ada bus yang langsung menuju Ragunan agar tidak perlu menuju Dukuh Atas 2.

Tidak seperti yang gue harapkan, 15 menit gue menunggu bus yang langsung menuju Ragunan di Halte Matraman 2 akhirnya gue memutuskan untuk menuju ke Dukuh Atas 2. Turun di Dukuh Atas 2 sudah ada bus menuju Ragunan yang menanti. Kali ini bus lumayan sepi, sehingga gue bisa duduk di kursi paling belakang. Bus berjalan dengan mulus, saking mulusnya gue sempat tertidur dan tiba-tiba terbangun karena bus berhenti di halte. Gue melihat jam sudah pukul 10.00, dan jantung mulai berdetak kencang karena janji bertemu adalah 10.15, sedangkan bus masih berada di daerah Kuningan.

Tepat 10.20, bus berhenti di Halte Ragunan. Gue keluar dari Halte dengan berlari, gue langsung menuju pintu masuk Kebun Binatang. Sambil mengambil ponsel untuk menelpon Tania. Tidak ada jawaban, dan gue mencoba untuk terus menelpon. Sesampai di depan pintu masuk gue berhenti dan melihat sekeliling, tidak ada Tania di sana. Gue kembali mencoba menelpon Tania, akhirnya setelah kesekian kali tersambung juga.

“Halo? Pak Adi?” Tania menyapa dengan lembut.

“Iya, Tania, kamu dimana?”,

“Di rumah Pak?”, Dia menjawab dengan santai.

“Apa? Kenapa kamu masih di rumah? Bukannya kita sudah janji bertemu hari ini?” nada suara sedikit meninggi.

“Maaf Pak, saya sudah kirim pesan dari tadi pagi kalau hari ini saya tidak bisa datang.”

“Maksudnya?”

“Iya Pak, coba Bapak lihat pesan saya.”,

“Sebentar”, gue langsung melihat pesan yang dimaksud dan ternyata memang benar ada pesan dari dia jam 8.30 dan gue terlewat untuk membacanya. “ternyata ada, maaf ya”.

“Maaf ya Pak, soalnya ibu saya tiba-tiba sakit pagi ini. Jadi saya harus mengantarnya ke dokter”, dia beralasan.

“Iya ga papa, mungkin lain kita bisa janjian lagi”.

“Iya Pak, terima kasih kalau begitu”.

“sama-sama”, gue menutup telepon dengan gontai.

Gue balik arah menuju Halte busway untuk kembali pulang karena tidak ada Sabtu ceria untuk gue hari ini. Berjalan gontai menuju Halte Ragunan dan langsung mengambil tempat duduk pojok belakang sambil melihat ke arah jalanan. Bus melaju dengan cepat tanpa mempedulikan hancurnya kecerian di hati gue. Mungkin karena saking lelahnya hati gue, gue tertidur dan terbangun karena seseorang mencolek gue dari samping.

“Mas, kartunya jatuh”, suara seorang wanita dari samping gue.

“Oh iya, terima kasih”, tanpa melirik gue memungut kartu gue yang jatuh di depan.

Gue kembali melihat ke arah jalanan dan mencoba menata hati untuk mengembalikan keceriaan yang sudah terenggut paksa. Gue menghela nafas panjang dan wanita di samping gue tiba-tiba nyeletuk.

“Sepertinya berat ya mas?”

“Apanya mba?”, gue yang masih malas bicara terpaksa menoleh ke samping, ternyata dia adalah wanita yang waktu itu gue lihat di Dukuh Atas 2 dan dia tersenyum ke arah gue.

“Helaan nafasnya berat mas”, lanjutnya lagi-lagi sambil tersenyum.

“Nih”, tanpa sadar, gue menyodorkan ponsel gue ke arahnya.

Dia terlihat kaget, tapi masih bisa melempar senyum dan berkata, “saya punya ponsel mas, ga perlu dikasih kok”.

“eh.. maaf”, gue gelagapan, asli gue ga tahu kenapa gue seperti orang bodoh.

“Mas turun dimana?”

“O o o o, sa sa saya di Dukuh Atas 2”, gue menjawab terbata.

“Oh, masih jauh. Saya pikir sudah terlewat karena tadi ketiduran.”

“Iya”, aduh gue cuma bisa berkata seperti itu.

“Oke mas, lanjut tidur lagi aja. Maaf tadi saya ganggu.”,

“Saya Adi”, gue mengulurkan tangan.

“Oh, saya Ayu mas,” dia menjawab namanya namun tidak menjawab uluran tangan gue.

“Boleh minta nomor ponselnya?”, gue mencoba untuk sedikit agresif.

“Oh, saya sudah mau sampai mas”, dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tapi…. nomor ponsel?”, gue mencoba mengulurkan ponsel ke arah dia yang sudah berdiri dari tempat duduknya.”

Dia hanya menjawab, “Nanti mas, kalau kita bertemu lagi.”

Dia berjalan menuju arah pintu bus dan turun di Halte Plaza Festival, gue cuma bisa melongo. Entah karena gue yang belum sadar atau memang sudah terhipnotis oleh keadaan. Hati memang tidak berdegup kencang, namun ada perasaan lain yang membuat gue seperti ingin teriak mengeluarkan apa yang gue rasakan. Ingin gue untuk turun di halte berikutnya dan mengejarnya kembali ke Halte dimana dia turun namun tidak gue lakukan mungkin karena gue percaya kata orang dulu, Kalau Jodoh Pasti Bertemu.

————————————————————————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *