Senyum dan Terpikat

Sudah beberapa hari ini gue pulang pergi ngantor naik bus transjakarta, berharap bisa ketemu dengan wanita yang gue lihat beberapa hari lalu. Namun setiap pulang tidak pernah terlihat kehadirannya di halte Dukuh Atas 2. Kadang gue sengaja untuk berlama-lama di halte dengan harapan wanita itu tiba-tiba menampakkan diri dalam antrian menuju ragunan, namun hasilnya tetap nihil. Hari ini gue ke kantor menggunakan motor yang telah lama dianggurin karena ada jadwal meeting dengan client di siang hari ini.

Naik motor ke arah Pluit di siang hari yang terik membuat keringat gue bercucuran di balik jaket kusam yang masih setia dipakai dari zaman kuliah. Untuk apa beli baru kalau masih muat dan hanya dipakai pada saat naik motor saja, begitu jawaban gue saat ditanya kenapa jaket “keramat” ini masih gue digunakan.

Sedikit kelabakan mencari parkiran motor di area perkantoran, gue mencari toilet terdekat untuk merapikan pakaian yang berantakan karena naik motor dan tidak lupa pula sedikit semprotan “ajaib” agar bau asap dan knalpot hilang dari sekitaran baju dan celana gue.  Setelah yakin akan tampilan diri, gue berjalan dengan mantap menuju kantor client.

Masuk lobby gedung, gue langsung melihat perbedaan yang sangat signifikan antara gedung kantor gue dan gedung perkantoran ini. Pencahayaan gedung lebih terang dan ada sebuah kolam di tengah-tengah ruang tunggu juga dilengkapi dengan air mancur yang membuat suasana terasa lebih nyaman. Namun yang paling memanjakan mata adalah karyawan wanita yang berlalu disetiap kedipatan mata, dalam hati ingin rasanya untuk pindah saja menjadi karyawan di gedung ini.

Dari resepsionis lobby gedung gue diarahkan menuju lantai 4 dimana kantor client berada, gue langsung masuk ke dalam lift yang ditunjuk oleh resepsionis. Lift gedung beraroma wangi, gue ga tau apakah ini bekas parfum karyawan atau memang lift diberi parfum ruangan secara rutin oleh pengelola gedung, satu hal yang juga tidak akan gue rasakan di gedung kantor gue.

Sesampai di lantai 4, gue berjalan keluar dari lift berbelok ke arah kanan dimana kantor client berada. Gue membuka pintu kantor client dan disambut oleh seorang resepsionis wanita.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”, resepsionis tersebut bertanya ke arah gue sambil membungkukkan badan.

Gue menghampiri dan langsung menyampaikan tujuan gue untuk meeting dengan karyawan yang ada di kantor tersebut. Resepsionis meminta gue  mengisi buku tamu dan mempersilahkan gue duduk di ruang tamu untuk menunggu client yang sudah membuat janji dengan gue. Gue melemparkan pandangan ke sekeliling ruang tamu, lagi-lagi gue merasa nyaman dengan suasana kantor ini dan gue melirik ke arah resepsionis yang ada di seberang ruang tamu. Resepsionis ini kira-kira berumur 20 tahun awal, tinggi rata-rata untuk ukuran wanita dengan rambut sebahu dengan kulit kuning langsat ditambah senyuman yang selalu terlihat saat dia menyapa membuat gue ga bosan untuk terus melirik.

Meeting gue berjalan lancar dan client pun puas dengan presentasi yang gue berikan, saatnya untuk kembali ke kantor menyampaikan hasil meeting kepada atasan. Gue ditemani oleh client sampai di depan pintu kantor. Setelah berpamitan, gue langsung menuju lift untuk menuju lantai bawah. Namun bayangan senyuman resepsionis tadi masih memenuhi pikiran gue dan otak gue seperti tidak mau kecolongan dua kali, dia memerintahkan kaki untuk memutar balik langkah menuju meja resepsionis dan tangan membuka pintu dengan sangat-sangat lembut.

“Selamat datang kembali, ada yang bisa saya bantu Pak? Apakah ada yang tertinggal?” dengan penuh senyuman si resepsionis menyambut kedatangan gue kembali.

“uhmm.. Ini kartu nama saya….”, gue menyodorkan kartu nama.

Terlihat resepsionis bingung dengan yang gue lakukan dan gue langsung melanjutkan kata-kata gue.

“Saya boleh minta kartu nama kamu?”

“Oh, maaf Pak saya tidak punya kartu nama.”, resepsionis mulai paham dengan apa yang gue inginkan.

“saya Adi, boleh kenalan?”, sambil mengulurkan tangan gue memperkenalkan diri.

“saya Tania Pak”, membalas uluran tangan gue.

“boleh minta nomor teleponnya?”

Tania menuliskan deretan angka di secarik kertas lalu memberikan kepada gue.

“Maaf Pak, ini nomor saya.”

“kalau nanti saya hubungi bolehkan?”, gue meminta ijin terlebih dahulu.

Tania tersenyum dan menjawab, “terserah Bapak saja.”

“Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu”, sambil tersenyum gue berbalik untuk meninggalkan Tania yang tersenyum malu dan telihat grogi.

Langkah gue terasa ringan saat ini, gue merasa mendapatkan angin dari surga untuk menjawab tantangan dari Amak. Sambil menunggu lift membukakan pintunya untuk gue tersenyum sendiri, entah ini senyum kemenangan atau senyum kebahagian karena setelah sekian lama akhirnya gue bisa berkenalan dengan seorang wanita yang membuat mata tak pernah bosan untuk memandangnya.

—–

2 thoughts on “Senyum dan Terpikat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *