Ada Cinta di Dukuh Atas 2

Selesai sudah kerjaan hari ini, komputer sudah mati dan gue beranjak untuk meninggalkan meja kerja. Biasanya sebelum pulang, gue nongkrong dulu dengan beberapa teman cowok di pinggir jalan depan kantor. Bang Ipul yang duduk di seberang gue pun sepertinya sudah bersiap untuk pulang. Gue mendekat ke arah Bang Ipul dan mengajaknya untuk nongkrong sebelum pulang.

“Bang, nongkrong dulu yuk?, macet lho pulang jam segini”.

“Sorry bro, gue mau langsung pulang. Anak gue minta dibeliin pisang.”

“Bentar doank Bang, secangkir kopi aja”, pinta gue sedikit memelas.

“Hm.. Kalo si Putra mau, gue mau deh”, akhirnya Bang Ipul luluh walau permintaan dia agak kurang masuk akal karena Putra sangat jarang sekali ikut nongkrong bersama kami, tapi karena hasrat ingin nongkrong lebih tinggi, gue sanggupi permintaanya.

“Ok deh Bang, gue tanya dia.”

Gue berjalan ke arah meja Putra yang berada di ruangan sebelah dan sepertinya dia juga sudah bersiap untuk pulang.

“Bro, ikut nongkrong dulu yuk sebelum pulang”, gue langsung pada maksud dan tujuan.

“Wah, ga bisa Bro. Gue udah ada janji sama teman gue”, tepat seperti yang gue duga, Putra menolak ajakan untuk nongkrong bareng.

“Bentar doank bro, kapan lagi kita nongkrong bareng.”

“Nanti aja deh Bro, gue udah janji dari lama soalnya.”

“Ya udah deh, makasih ya.” gue meninggalkan meja Putra menuju Bang Ipul yang sudah menunggu jawaban dari Putra.

“Gimana Di, si Putra mau ikutan?”, tanya Bang Ipul dengan santainya.

“Ga mau Bang.”

“Ha… Ha… Ha.., gue udah tahu kalau dia bakal nolak, makanya tadi gue jawab mau ikut nongkrong kalua Putra ikutan”, tawa puas Bang Ipul menggelegar.

“Kampret lu Bang, gue pikir lu emang mau gue ajak nongkrong. Sialan”, gue mendengus.

“Ok, kalau gitu gue pulang duluan ya.”, Bang Ipul mengambil tas dan bersiap untuk berjalan pulang.

“Eh.. bentar Bang, lu lewat Dukuh Atas ga?”, tiba-tiba terlintas keinginan untuk pulang naik Busway.

“Iya, emang kenapa?”, tanya Bang Ipul.

“Gue nebeng donk”.

“Lah, motor lu gimana? bukannya lu bawa motor?”, Bang Ipul terlihat bingung.

“Ini gara-gara lu ga mau gue ajak nongkrong, ya udah gue mau muter-muter Jakarta naik Busway dulu deh”, gue beralasan.

“Ok deh, yuk kita pulang.”

Kami berjalan menuju parkiran dan tanpa banyak hambatan Bang Ipul langsung nge-gas motornya menuju halte Busway Dukuh Atas 2. Sampai di halte tanpa basa basi Bang Ipul meninggalkan gue yang langsung masuk ke dalam Halte.

Ini pertama kalinya gue naik Busway dalam hidup gue, ternyata lumayan rame orang-orang yang antri sore ini. Setelah tapping kartu, gue langsung ikut antri di pintu arah Pulogadung 2. Karena yang antri sudah terlalu banyak, gue berdiri terlalu jauh dari pintu masuk sambil bermain dengan ponsel yang ada di tangan.

Sekitar 10 menit, panjang antrian mulai berangsur surut. Gue merangsek maju ke depan dan bersiap untuk mencoba bergumul dengan antrian naik ke dalam bus dan masih bermain dengan ponse. Tiba-tiba badan gue terdorong dari belakang dan untung gue bisa menahan badan gue agar tidak mengenai orang yang ada di depan gue. Gue memasukkan ponsel ke dalam saku gue dan menoleh ke belakang, ada apakah gerangan. Orang di belakang berdiri diam tanpa rasa bersalah, gue pun diam dan kembali menghadap ke depan karena gue pikir ini hal biasa dalam antrian yang rame seperti ini.

Karena bosan dengan antrian yang makin lama membuat hawa sedikit panas gue menoleh ke arah kiri, ke arah antrian menuju Ragunan. Antriannya lebih panjang dari yang menuju Pulogadung, untung gue berada di antrian menuju Pulogadung jadi gue tidak perlu antri sepanjang itu. Namun dari kejauhan gue melihat seorang wanita berjilbab, kulitnya putih berdiri tegap dan sepertinya sedang mendengarkan musik. Gue pandang cukup lama sampai akhirnya gue meyakini kalau dia sendirian tanpa ada teman.

Antrian gue semakin beranjak maju, bus berikutnya sudah pasti gue akan dapat naik ke dalam bus. Namun mata gue tidak dapat lepas dari wanita di antrian menuju Ragunan. Pikiran gue mendadak kacau, gue mau naik bus berikutnya atau berpindah antrian agar bisa berkenalan dengan wanita itu.

Gue kembali mengambil ponsel gue untuk membunuh kebosanan sambil menenangakan pikiran untuk menentukan pilihan. Bus menuju Pulogadung akhirnya datang, antrian depan gue mulai bergerak maju dan tepat satu baris di depan gue masuk ke dalam bus. Tibalah giliran barisan gue untuk masuk ke dalam dan tiba-tiba kaki gue bergerak berjalan ke samping untuk keluar dari barisan dan beberapa orang yang antri di belakang gue menyoraki gue sehingga semua mata tertuju kepada gue. Gue menunduk berjalan ke arah belakang dan berjalan ke arah antrian bus menuju Ragunan.

Mata gue bergerak mencari wanita yang tadi gue lihat, dimana dia? Gue mencari sekali lagi sambil berjalan mendekat untuk memastikan keberadaanya. Ternyata memang wanita itu sudah tidak ada, dia sudah pergi dan tinggallah gue yang hanya bisa berdiri tertegun karena terlalu lama mengambil keputusan.

—-

2 thoughts on “Ada Cinta di Dukuh Atas 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *