Comblangin Donk!!!

Belum selesai ayam berkokok pagi ini, gue sudah bersiap beranjak ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri hari ini. Membersihkan badan dan bersiap menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah. Selesai subuh, gue bersiap untuk berangkat menuju kantor berharap bisa bercengkrama terlebih dahulu dengan rekan sejawat sebelum memulai hari yang (mungkin) berat.

Tidak seperti biasanya, gue menyempatkan untuk membeli jajanan untuk dibawa ke kantor. Gue mencari jajanan yang disukai untuk cemilan pagi ini, ada risol pastel dan juga bakwan telah dipilih untuk teman bercengkrama.

Sudah ada seorang rekan kerja yang telah datang dan  belum sadar akan kedatangan gue. Sebelum menyapa, gue langsung menuju meja kerja untuk menyalakan komputer dan dari kejauhan suara seorang wanita paruh bara menyapa.

“Oi mas Adi, tumben pagi-pagi udah nyampe. Biasanya on time, ada kerjaankah?”.

Gue melirik ke arah suara tersebut, terlihat sesosok perempuan berjilbab yang bertubuh tinggi semampai melongok ke arah meja gue dan gue langsung menjawab.

“ah, ga mbak. Biasa aja, ini ada sedikit kerjaan dari bos yang harus diselesaikan sebelum beliau sampe”, jawab gue sedikit berbohong.

“Buruan dikerjain, ga kebayang kalao bos lu marah. Serem…!!!”, dia mengeryit.

“Siap bos,” gue mengalihkan pandangan ke arah monitor komputer dan sambil pura-pura mengetik dan menggerakkan mouse.

10 menit lamanya gue bermain dengan komputer, beberapa karyawan lain pun mulai berdatangan. Gue beranjak dari meja dan mengambil piring untuk tempat makanan yang gue bawa. Gue berjalan ke arah meja tengah dan memanggil teman-teman untuk berkumpul menikmati makanan yang gue bawa.

“Ayo mbak Angel, Mbak Agnes dan Bang Ipul cicipin makanannya. Ini tadi gue beli di jalan, lumayan buat ganjal perut sampai jam makan siang.”

“Tumben-tumbennya lu bawa makanan Di, biasanya kan lu tukang ngabisin makanan yang ada di sini”, Bang Ipul satu-satunya karyawan pria yang sudah datang meledek gue.

“Iya nih, datangnya juga pagian. 5 menit setelah gue datang, dia udah ada.”, Mbak Angel, wanita paruh baya yang tadi pagi menghampiri gue.

“Ah, biasa aja kali Mas-Mbak. Ini kalo bukan karena kerjaan, gue masih di kosan kalau jam segini”

“Emang lu ada kerjaan apaan? Closing bulanan kan belum, kalau Accounting bukannya sibuk pas Closing ya?”, Bang Ipul bertanya dengan nada mengejek.

“Bos minta report, dia minta pagi ini sudah harus selesai. Kemarin malam gue udah kelarin, tinggal rapi-rapi dikit.”

“Semoga gaji lu naik deh kalau lu bisa datang pagi terus, apalagi bawain makanan tiap hari. Hahahaha.”, Bang Ipul tertawa.

“Makanan ini ga gratis lho ya, lu semua harus bantuin gue”.

“Aduh, gue udah makan banyak nih. Lu mau minta bantuin apa?”, Mbak Angel yang mau memasukkan risol ke mulut menahan gerakannya.

“Untung gue belum makan itu”, dari jauh Mbak Agnes cengengesan.

“Ada-ada aju lu Di, bagi-bagi makanan itu yang ikhlas. Jangan pamrih, benar-benar ga ada kebaikan di hati lu.”, Bang Ipul sedikit marah.

“Tenang, ini bukan minta bantuan soal kerjaan. Tapi soal wanita.”

“oooOO… Wanita.”, Mas Adi dan Mbak Angel kompak

“Jadi gini, gue terima kabar dari Amak di kampung bahwa adik gue bakal dilamar orang. Si Amak belum mau menerima lamaran kalau gue belum ada pasangan. Seenggaknya punya dululah walau belum mau serius. Nah, permasalahannya gue ga ada teman atau kenalan perempuan selain teman kantor di sini. Tau sendiri di kantor ini nilainya di bawah 5 semua.”

“Anjrit, enak aja lu nilai kita di bawah 5”, Mbak Angel menyor kepala gue.

“Jadi lu mau kita ngenalin lu sama cewek?”, Mbak Agnes terlihat mendekat ke arah kami.

“Gue punya kenalan cewek, lu mau? Tapi umurnya se gue, 32 tahun dan janda. Hihihihihi.” Bang Ipul ketawa cengengesan.

“Janda bohay ga bang? Hahaha”, tawa gue meledak.

“Kalau dari gue sih ga ada Di, nanti coba kita tanya Erika deh. Umurnya kan ga jauh dari lu, siapa tau dia punya teman yang masih Jomblo.”, Mbak Angel mulai serius.

“Tapi temannya mau ga sama lu? Itu yang penting”, Bang Ipul tetap berusaha meledek gue.

“OK deh, nanti gue tanya Erika aja, terima kasih semuanya.”, gue berjalan ke arah meja gue sambil menunduk.

Sepertinya uang gue terbuang percuma pagi ini. Tau begini, gue datang siang dan sarapan lontong dulu. Uang terbuang, jodoh pun tak datang. Apes sudah.

—–

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *