Capres Cawapres 2019

Akhirnya sudah mendaftar para kontestan yang akan berlaga pada Pilpres 2019 nanti. Yang mana akan menentukan arah pembangunan Indonesia ke depannya. Pastinya pemilihan nanti akan berlangsung seru dan hangat seperti 4 tahun yang lalu, dimana Capres yang berlaga tetap sama; Jokowi dan Prabowo namun dengan Cawapres yang berbeda.

Berikut pemikiran dan Opini gue mengenai Capres dan Cawapres yang akan berlaga.

Source: Tribunnews.com

1. Jokowi dan Ma’ruf Amin

Tentunya Jokowi masih ingin melanjutkan masa jabatannya menjadi Presiden RI, masih banyak program yang belum terlaksana adalah salah satu alasan kenapa harus Jokowi. Awalnya, Jusuf Kalla berniat untuk menemani Jokowi untuk melanjutkan jabatan mereka. Namun apa daya, MK tidak mengabulkan PK yang diajukan untuk membuat JK bisa menambah masa jabatan 1 periode lagi dimana sebelumnya sudah 2 periode menjabat sebagai Wakil Presiden. Hal ini membuat partai koalisi Jokowi harus berputar otak mencari calon yang dipandang layak menggantikan JK, baik popularitasnya ataupun kualitasnya.

Partai pendukung Jokowi yang menguasai lebih dari 60% kursi di parlemen sudah menjaring beberapa nama. Mulai dari Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, sampai Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi (yang akhirnya harus keluar dari Partai Demokrat karena mendukung Jokowi). Di beberapa hari terakhir sebelum deklarasi, partai pendukung menyebutkan inisial Cawapres Jokowi adalah “M”. Semua orang percaya, bahwa Cawapres Jokowi kemungkinannya adalah Mahfud MD dan Ma’ruf Amin.

Hari Kamis tanggal 9 Agustus 2018, selepas maghrib Jokowi mengumumkan pendampingnya beliau untuk maju di Pilpres 2019 adalah Ma’ruf Amin bukan Mahfud MD. Disini gue agak kecewa dengan pilihan Jokowi, kenapa lebih memilih Ma’ruf Amin dibanding Mahfud MD? Akhirnya gue sadar, Jokowi bertindak tidak hanya dengan pilihannya sendiri melainkan juga harus dengan persetujuan partai pendukungnya. Golkar dan PKB tidak setuju dengan Mahfud MD dan mereka lebih setuju dengan Ma’ruf Amin.

Di sini gue melihat partai pendukung Jokowi bertindak praktis, dimana mereka melihat Ma’ruf Amin lebih menjual ke”islam”annya dan ke”NU”annya dibanding Mahfud MD. Seperti yang kita ketahui, selama Jokowi menjabat, selama itulah isu agama dilancarkan oleh lawannya. Hal inilah yang coba diminimalisir oleh partai pendukung. Siapa yang mau main isu agama, kalau Cawapresnya adalah ketua MUI dan Rais Aam NU dan partai pendukung mengharapkan suara pemilih muslim dan NU khususnya akan masuk ke kantong mereka.

Tentu ada resiko yang harus dibayar, Ma’ruf Amin sudah berumur 75 tahun. Ini yang akan jadi masalah bagi Jokowi, lawan politik bisa menggunakan ini sebagai cara untuk menjatuhkan Jokowi. Begitu juga status Ma’ruf Amin yang seorang ulama/kyai dan salah satu orang yang membuat Ahok mencicipi kelamnya tahanan Mako Brimob, apakah akan membuat pendukung Ahok memalingkan diri dari Jokowi?

2. Prabowo – Sandi Uno

Lagi-lagi Prabowo masih mencoba untuk menjadi Presiden. Ya, pendukung Prabowo masih banyak yang menginginkan beliau untuk menjadi pemimpin negeri ini. Partai pendukung Prabowo sudah menggaungkan tagar #2019gantipresiden dari tahun 2017 setelah demo berjilid penistaan agama atas Ahok. Awalnya gue sempat berharap tagar tersebut akan memunculkan nama baru yang akan meladeni Jokowi di perhelatan pemilihan tahun 2019.

Namun, tak bisa dipungkiri satu-satunya nama yang dapat menandingi Jokowi adalah Prabowo, setelahnya adalah Anies Baswedan dimana beliau sudah berjanji untuk tidak akan lompat menjadi Capres di 2019. Tentunya Prabowo harus menemukan calon yang lebih “nendang” dibanding Hatta Rajasa yang digandeng di tahun 2014 lalu.

Sebelum terpilihnya Capres dan Cawapres, beberapa ulama mengadakan Ijtimak untuk memilih Capres dan Cawapres yang akan maju pada pemilihan 2019. Yang terpilih untuk Presiden adalah Prabowo dan Habib Rizieq dan Wakil Presiden adalah Ustad Abdul Somad (UAS) dan Salim Segaf.

UAS menolak untuk menjadi Cawapres dan pilihan Cawapres sesuai ijtimak ulama adalah Salim Segaf, namun beberapa hari sebelum pengumuman muncul nama Agus Yudhoyono sebagai Cawapres Prabowo dimana Partai Demokrat menyampaikan dukungan untuk Prabowo sebagai Capres 2019. Tapi PKS dan PAN tidak menyetujui rencana tersebut, dimana mereka masih ngotot  untuk mengajukan Cawapres dari partai mereka.

Ditengah hiruk pikuk pencarian Cawapres, tanggal 8 Agustus 2018 Andi Arief Wasekjen Partai Demokrat menyampaikan bahwa Sandi Uno membayar mahar untuk PAN dan PKS sebesar 500M masing-masing agar melapangkan jalannya untuk menjadi Cawapres Prabowo. Andi Arief sampai menyebut Prabowo sebagai Jendral Kardus.

Endingnya seperti yang kita ketahui Prabowo mengumumkan Sandi Uno sebagai Cawapres untuk mendapingi beliau menjadi lawan Jokowi dan Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019.

Prabowo dan Sandi berasal dari partai yang sama yang mana akhirnya Sandi mundur dari Gerindra agar dianggap bukan perwakilan partai yang sama dengan Prabowo. Sandi pun mundur dari jabatannya sebagai Wakil Gubernur DKI dimana belum 1 tahun dijabatnya. Ini mengingatkan kita kepada Jokowi yang meninggalkan Jabatan Gubernur DKI saat dirinya terpilih sebagai Presiden di tahun 2014.

Prabowo harus bisa meyakinkan pemilih tak tetap (swing voter), jika Sandi adalah pilihan yang tepat. Sandi memang sudah lama berkecimpung di politik, sejak 2014 sudah menjadi pendukung Prabowo dan berhasil menjungkalkan Ahok dari kursi empuk Gubernur DKI. Namun kiprah suksesnya menjadi pemimpin belum begitu teruji.

Untuk pendukung gerakan #2019gantipresiden, siapapun yang dipilih Prabowo tidak ada bedanya, karena yang penting Asal Bukan Jokowi yang jadi presiden di periode berikutnya hal ini sama dengan Pilgub DKI tahun lalu, dimana setelah Ahok keseleo lidah tidak pada tempatnya yang berujung pada penistaan agama muncullah gerakan Asal Bukan Ahok.

Jika Ahok dengan hasil kerja yang “agak” terlihat bisa dikalahkan, tentunya bukan hal yang mustahil jika Jokowi – Ma’ruf Amin pun bisa  kalah oleh Prabowo – Sandi Uno pada Pemilihan Presiden 2019 nanti.

 

Kamar tidur

13 Aug 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *