KL – Hat Yai – Malaka dalam 4 Hari

Ini cerita tahun lalu, tahun 2016. Sudah basi, namun perlu ditulis kembali perjalanan pertama Qisha ke luar negeri. Tujuan perjalanan kami adalah Kuala Lumpur (KL), Hat Yai dan Malaka pada tanggal 10 Sep 2016 – 13 Sep 2016. Liburan ini kami jalani dengan budget seadanya, ada untuk ongkos dan ada untuk makan. Jadi tidak ada dalam benak terlintas sedikit pun waktu untuk berfoya-foya atau cari foto yang instagramable. Intinya yang penting berangkat dan memperlihatkan Negara lain kepada Qisha. Sekedar informasi, Qeena masih berada dalam kandungan berusia 6 bulan dalam perut bundanya sedangkan Qisha berusia 1 tahun 10 bulan pada saat itu. Selain kami berempat, saya juga mengajak ketiga adik dan seorang sepupu dalam perjalanan ini. Namun, abaikan mereka karena kerepotan dalam hal menghadapi Qisha dan membawa Qeena di dalam perut karena mereka sama sekali tidak membantu.
Ditemani Bocah saat di KLIA2


Hari pertama – 10 Sep 2016

Pagi buta kami menuju ke Bandara Soekarno Hatta untuk mengejar pesawat menuju KL. Selama di pesawat tidak kendala yang kami hadapi karena Qisha cukup tenang dalam pesawat. Sesampai di KLIA2 (maklum budget traveller), kami mencari tempat makan untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan sekalian membeli SIM Card Malaysia agar dapat menggunakan Maps saat berada di KL atau Malaka nantinya.
Setelah perut terisi, kami menuju ke KL Sentral menggunakan bus. Tidak lebih dari 1 jam, kami sudah tiba di KL Sentral. KL Sentral ini kalau menurut gue seperti Blok Mnya Jakarta, karena waktu dulu pertama ke Jakarta, Blok M selalu jadi patokan untuk pergi mengelilingi Jakarta. Begitupun dengan KL Sentral, ingin kemana saja di sekitar KL maka pergilah ke KL Sentral. Tujuan pertama adalah Batu Caves, kami langsung menuju loket pembelian tiket KMUTER (Layaknya Commuter Line Jabodetabek). Kami menunggu sekitar 10 menit dan siap untuk menuju ke Batu Caves.

Menunggu KMUTER di KL Sentral

Batu Caves adalah tempat sembahyang umat Hindu, banyak patung dewa-dewa Hindu di sekitaran kawasan ini. Jika kuat untuk mendaki bukit, sangat disarankan untuk mencoba mendaki menuju goa yang ada di puncak bukitnya. Setelah puas melihat-lihat dan mengabadikan momen untuk dipajak di social media, kami beranjak menuju tujuan kedua yaitu Masjid Negara Malaysia. Lagi kami naik KMUTER untuk menuju tempat tersebut. Kami turun di Stasiun Kuala Lumpur, dalam perjalanan menuju Masjid Negara, kami disuguhi bangunan lama Kantor Keretapi Tanah Melayu Berhad. Alhasil, adik-adik saya sempat-sempatnya untuk berswafoto ria di depan kantor tersebut.

Qisha di Batu Caves

Sesampai di Masjid, kami bergantian untuk bersih-bersih, sholat, mandi dan ganti baju serta sedikit mengisi perut dengan roti yang di bawa dari Jakarta dan tentu tak lupa untuk berfoto ria di depan Masjid Negara sebagai kenang-kenangan. Puas dari Masjid Negara kami memesan Grab Car menuju KLCC tempat dimana Menara Petronas berada. Sampai di Twin Tower Qisha sudah lelap tertidur di gendongan, jadi gue dan istri tidak sempat untuk mengabadikan momen bersama Qisha di bawah Menara Petronas a.k.a Twin Tower.

Selesai dari Twin Tower sekitar jam 18.00 waktu Malaysia, kami berjalan kaki menuju stasiun Monorail untuk menuju ke KL Sentral kembali. Tujuan kami adalah Terminal Bersepadu Selatan untuk naik bis menuju Hat Yai. Lumayan jauh jalan yang harus kami tempuh untuk sampai ke stasiun Monorail terdekat, namun apapun yang terjadi Qisha harus mencoba rasanya naik Monorail. Itulah alasan kenapa tidak memilih Grab Car walaupun secara biaya lebih hemat.

Walaupun perut sudah keroncongan, sesampai di KL Sentral kami kembali naik KMUTER menuju Terminal Bersepadu Selatan karena takut ketinggalan bis. Sesampainya di Terminal, kami dibuat takjub dengan “penampakan” Terminal yang sangat megah (maklum jarang liburan). Kami langsung menuju loket bus dan melakukan proses check in menggunakan Passport. Ya, naik bus nya tidak sembarangan, ada proses check in seperti naik pesawat. Selesai semua proses, kami menuju tempat makan untuk mengisi perut yang sudah tidak kuat menahan lapar.

Saat menunggu bus menuju Hat Yai

Setelah perut kenyang, kami langsung menuju ruang tunggu keberangkatan untuk melanjutkan perjalanan menuju Hat Yai. Bus berangkat jam 10.00 waktu Malaysia, kami langsung mengambil tempat masing-masing dan langsung tertidur pulas dalam perjalananan.


Hari kedua – 11 Sep 2016
Sekitar pukul 4 dini hari (waktu sana), semua penumpang bus dibangunkan oleh kondektur bus. Kami diminta turun untuk melalui proses imigrasi. Karena masih mengantuk, tanpa pikir panjang gue langsung menggendong Qisha sambil memegang Passport tanpa memperhatikan Handphone yang ternyata tertingal di kursi bus.

Turun dari bus, kami langsung berjalan menuju antrian imigrasi. Walaupun semua penumpang masih mengantuk, namun semua tetap rapi dalam barisan tanpa ada yang menyerobot. Setelah Passport kami dicap, kami kembali naik bus dan gue langsung mencari Handphone yang tertinggal, alhamdulillah masih ada.

Tidak beberapa lama bus berhenti kembali, kami disuruh turun lagi. Kondektur bus berteriak, “imigration, bring your Passport”. Ternyata tadi imigrasi keluar dari Malaysia dan sekarang giliran imigrasi untuk masuk Thailand (maklum baru pertama kali).

Kali ini antrian semrawut karena banyak pos imigrasi yang belum buka. Di sini aksara Thailand sudah banyak terlihat (ya iyalah, sudah di Thailand). Kami antri di salah satu loket, gue menggendong Qisha yang sedang tertidur dan Istri berada di belakang gue. Saat berbincang dengan salah satu adik gue, seorang nenek yang sepertinya Warga Negara Malaysia (melihat sampul Passportnya) yang berada di urutan terdepan meminta gue untuk maju. Dia bilang kasihan sama gue yang menggendong anak yang lagi tidur (mungkin muka gue melas banget kali ya). Setelah gue maju, dia lihat perut Istri gue dan dia juga meminta Istri untuk ikut maju. Akhirnya kami dengan cepat menyelesaikan proses imigrasi dan kembali ke bus untuk beristirahat.

Sambil menunggu penumpang lain, kami membeli makanan kaki lima yang banyak menjajakan makanan di sekitar bus. Setelah urusan imigrasi selesai, bus melanjutkan perjalanan menuju kota Hat Yai. Sekitar pukul 8 Waktu kota Hat Yai kami sampai di tujuan. Turun dari bus, gue langsung diserbu oleh beberapa orang yang menawarkan jasa angkutan menuju tujuan selanjutnya. Awalnya gue tepis tawaran yang datang karena memang ingin mencari loket bus untuk kembali ke KL. Kebetulan loket kepulangan tidak jauh dari tempat kami turun dari bus, gue mengajak rombongan untuk melaporkan kepulangan esok hari di loket tersebut. Setelah urusan tiket selesai, gue menanyakan sewa mobil untuk mengantar kami berkeliling seharian di kota Hat Yai. Entah bahasa inggris gue yang jelek atau memang gue ga ngerti bahasa inggris, percakapan kami tidak menemui hasil. Akhirnya salah seorang pegawai loket memanggil seorang supir tuk-tuk keturunan India. Si supir mengerti bahasa inggris namun kesulitan saat bicara, daripada ga jalan-jalan kami menggunakan jasa si supir untuk mengantarkan kami ke hotel.

Di atas Tuk-tuk

Sebelum menuju hotel, gue meminta si supir untuk mengantarkan kami ke Masjid guna menunaikan sholat Idul Adha. Si supir mengantarkan kami ke tempat pertama yang bangunannya sepeti Mushalla. Gue turun dan langsung masuk ke dalam tempat tersebut, namun tidak ada seorang pun yang ada di dalam. Tidak beberapa lama dari luar datang seorang laki-laki berpakaian muslim, gue bertanya apakah sholat Idul Adha sudah selesai, namun orang tersebut tidak bisa bahasa inggris. Gue minta bantuan si supir untuk bertanya dan kami disuruh mencari tempat lain. Akhirnya kami menemukan Masjid yang hendak melaksanakan sholat Idul Adha.

Setelah melaksanakan Sholat Idul Adha kami langsung menuju hotel untuk istirahat dan mengganti pakaian. Karena sampai di hotel masih jam 10 pagi, kami terpaksa menunggu jika ada kamar yang bisa kami gunakan. Alhamdulillah, kami mendapatkan 1 kamar yang bisa digunakan terlebih dahulu dari 3 kamar yang kami pesan.

Selesai istirahat, mandi dan ganti pakaian, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan awal adalah mengisi perut yang sudah meronta-ronta meminta jatah preman. Turun dari kamar kami langsung menuju arah Mall terdekat. Dalam perjalanan menuju mall, seorang penduduk lokal memanggil dari atas tuktuk yang dikendarainya. Dia turun dari tuktuk dan menghampiri kami. Dia bertanya kami mau kemana, dan menawarkan jasa tuktuk untuk seharian penuh. Setelah negosiasi dengan alot akhirnya kami setuju untuk menggunakan jasa yang bersangkutan.

Si Bapak mengantarkan kami untuk mencari makanan halal terlebih dahulu. Sedikit memutar dia agak kecewa karena beberapa tempat makan halal tidak ada yang buka dikarenakan libur idul adha selama 2 hari di sana. Karena ga mau pusing, gue memutuskan untuk makan di McD. Namun si Bapak dengan sigap bilang jika di Thailand Mc D itu tidak halal. Akhirnya dia mencoba untuk memutar tuktuk ke arah lain sampai akhirnya kami menemukan penjual ayam goreng di pinggir jalan. Setelah puas makan, kami langsung diantarkan beberapa destinasi wisata.

1. Magic Eye 3D Museum
   Pertama masuk kami disuguhi penampilan sulap dari seorang pesulap berpenampilan seperti Willy Wonka. Penampilan dari pesulap sangat menghibur, namun kami tidak diperbolehkan mengabadikan foto dalam pertunjukan tersebut, Setelah puas dengan aksi sulap, kami mengambil beberapa foto dengan gambar yang seakan-akan hidup.

Qisha & Bunda
Qisha, Bear & Mickey
Qisha in the Stair
Qisha on the Glass

2. Hat Yai Municipal Park

    Setelah puas di Magic Museum 3D, kami dibawa ke Hat Yai Municipal Park. Tempatnya naik ke atas bukit, sehingga dapat melihat kota dari atas. Kami sempat ditawarkan untuk naik Cable Car (kereta gantung) namun kami tolak karena keterbatasan biaya.
Hat Yai Municipal Park
Melihat kota Hat Yai dari atas
3. Songla Beach
   Setelah 1 jam di Hat Yai Municipal Park, kami langsung menuju Songla Beach. Pantainya bersih, namun jika dibandingkan dengan pantai di Indonesia sepertinya masih lebih bagus pantai yang di Indonesia. Hanya saja yang di Indonesia kurang terjaga kebersihannya.
Pose di Songla Beach
Pose dengan Duyung Songla Beach

Puas main di Pantai kami menyempatkan untuk makan terlebih dahulu. Tidak susah untuk mencari makan di daerah pantai ini, karena banyak pedagang muslim di kawasan Songla Beach, namun jangan kaget karena harganya cukup mahal untuk seporsi makanannya.

4. Hat Yai Central Mosque
    Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke Wan Hat Yai Nai, namun karena kami belum sholat, kami memutuskan untuk menuju Hat Yai Central Mosque. Posisi masjid ini tidak di tengah kota, namun berdirih megah di lahan yang luas. Setelah sholat kami sempat mengelilingi masjid ini untuk beberapa saat.
Hat Yai Central Mosque
Akhir dari perjalanan mengelilingi Hat Yai
Kami langsung diantar menuju Hotel setelah menyelesaikan perjalanan singkat ini. Malam hari, kami sempat pula berjalan-jalan di kawasan sekitar hotel. Ternyata cukup rame juga suasana malam di Hat Yai, ada banyak pedagang makanan dan aksesoris.

Hari ketiga – 12 Sep 2016
Setelah seharian di Hat Yai dan tiket balik sudah di tangan dengan jadwal jam 10 Pagi, bangun pagi kami langsung bersiap menuju loket bus kepulangan. Gue baru sadar, ternyata jarak hotel dengan loket bus tidak terlalu jauh (sekitar 3 blok). Tidak jauh dari loket bus ada tempat makan halal, gue memilih untuk menunggu bus di situ sembari mengisi perut di pagi hari.

Menunggu Bus Pulang

Jam 10 pas, bus yang akan kami tumpangi datang dan kami langsung diminta untuk naik. Perjalanan menuju KL kami lewati sekitar 10-11 jam termasuk 2 kali berhenti di Imigrasi, 1 kali berhenti di tempat istirahat dan 1 kali berhenti mengambil penumpang di terminal.

Kami sampai di KL sekitar jam 8 malam waktu KL dan kami sempatkan makan dulu di Food Court yang ada di terminal. Dari Terminal Bersepadu Selatan kami langsung menuju KL Sentral untuk segera mencari penginapan yang sudah kami pesan. Sesampai di penginapan, tubuh langsung ambruk karena saking lelahnya di perjalanan, padahal kalau mau dipaksa kami masih ingin jalan-jalan malam ke Petaling Street.

Hari keempat – 13 Sep 2016
Bangun pagi-pagi, gue langsung menggedor kamar adik-adik gue, karena mereka sudah harus pulang lebih cepat dari kami. Kami juga bersiap-siap untuk menuju Malaka. Setelah semuanya rapi, kami langsung keluar dari hotel. Pertama, kami mengantarkan adik-adik yang akan pulang ke Pekanbaru ke stasiun KLIA Ekspress. Ambil tiket dan mengantarkan mereka check in, lalu kami beranjak menuju stasiun KMUTER menuju Terminal Bersepadu Selatan. Dari terminal Bersepadu Selatan, kami menuju Malaka menggunakan bus. Waktu tempuh sekitar 2 setengah jam perjalanan yang tentunya kami habiskan dengan tidur di dalam bus.

Sesampianya di Malaka Sentral kami kembali naik bus ke Pusat Kota. Di sini gue kembali melihat bahwa orang-orang itu baik-baik. Melihat gue membawa anak, gue diberi tempat duduk, namun gue tolak karena gue melihat ada nenek yang jauh lebih berhak dari gue.

Kami turun di depan Menara Taming Sari, kami mencoba untuk naik menara tersebut. Hari itu tidak terlalu penuh, sehingga kami dengan cepat untuk sampai ke atas. Setelah puas, kami berjalan kaki ke arah pulang sambil menikmat jalanan dan sungai-sungai kota Malaka.

Titik Nol Melaka

Di atas Menara Taming Sari

Qisha bermain di Sungai Melaka

Pose di Sungai Melaka

Setelah puas di Malaka, kami langsung menuju KLIA2 menggunakan bus dari terminal Melaka Sentral untuk kembali ke Jakarta guna melanjutkan hidup.

——————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *