Neesha Part. 4

 

 

empat
Pagi ini aku berangkat lebih awal dari biasanya, sampai di sekolah belum ada satupun guru yang datang. Hanya terlihat Pak Asep penjaga sekolah yang lagi membersihkan halaman sekolah. Aku langsung berjalan menuju ruang guru, langsung menuju tempat dudukku. Aku duduk dan mengambil ponsel dari tasku. Aku terdiam, karena aku sama sekali tak tahu akan menghubungi siapa. Aku bingung, tiba-tiba aku teringat dengan seorang sahabat sewaktu masih kuliah di Kota Kembang. Ratih, iya Ratih. Biasanya disaat seperti ini dialah tempat curhat yang paling melegakan. Ratih selalu memberikan pencerahan atau solusi dari setiap masalah yang kuhadapi.
Kucari nomor Ratih di ponselku, langsung kucoba mengubungi. Terdengar nada sambung dari suara di seberang. Tiba-tiba terdengar suara lembut Ratih mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.. Nessha. Apa kabar? Sudah lama tak kudengar lagi kabarmu setelah kita wisuda” Ratih langsung menodong dengan pertanyaan-pertanyaannya.
“Waalaikum salam. Baik Tih, kamu gimana? Maaf ya, kemarin sedikit sibuk dengan urusanku, haduh maaf ya!”
“Ah. Gak papa, biasa aja lagi. Oh ya, ada apa nih pagi-pagi udah nelpon?”, lagi Ratih memberi pertanyaan
“Nggak, aku Cuma kangen kamu aja. Emang ga boleh kalau aku nelpon kamu?” aku pura-pura menyembunyikan masalahku.
“Oalah Nessha, aku sudah mengenla kamu dari awal kita kuliah. 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal kepribadian kamu. Biasanya kalau pagi-pagi seperti ini kamu menghubungi aku, pasti di otak kamu itu ada sesuatu yang ingin kamu tumpahkan dan dibagi ke otakku yang lebih cerdas ini…Hehehee. Benarkan?”
“He…”, aku tersenyum kecut, memang Ratih telah mengerti kepribadianku. 4 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk mengenalku lebih jauh.
“Jadi?” Ratih melanjutkan pertanyaanya.
“Apanya?” jawabku pura-pura tidak tahu.
“Haduh Ness, kamu mau cerita sekarang atau nanti saja? Soalnya kalau terus begini aku akan semakin penasaran. Ayolah ceita, siapa tahu aku bisa bantu.”
“Iya..iya aku cerita”, Aku tak bisa menaan lagi untuk berbagi kisah dengan Ratih.
“OK, aku siap mendengarkan.”, Ratih meyakinkanku
“Begini Tih, beberapa waktu lalu ada temannya Mama yang berniat menjodohkan anaknya denganku. Sebenarnya untukku tidak ada masalah dengan menikah muda atau apa. Tapi yang jadi persoalan untukku sekarang, aku sama sekali tidak punya rasa kepada pria yang datang kemarin itu. Aku bingung, jika aku menolaknya apa Mama bisa menerima keputusanku. Bukankah dalam membina keluarga itu kita mesti punya rasa mencintai dan menyayangi. Memang ada yang bilang, rasa cinta dan saying itu bisa datang belakangan, tapi jika sekarang aku tidak punya rasa apa-apa kepada pria itu apa mugkin aku nanti bisa mencintainya?” Aku menjelaskan panjang lebar kepada Ratih.
“Oh.. jadi kamu akan dinikahkan Ness? Seharusnya kamu bahagia dan bersyukur, jalanmu untuk mencapai arah itu lebih dimudahkan dengan datangnya calon ke rumahmu. Yah, jika kamu menolak pun tak ada salahnya. Ini menyangkut perasaan hati, kamu jangan gegabah. Yang akan menjalani ke depannya adalah kamu, bukan Mamamu. Aku yakin Mamamu mengerti alasan penolakan kamu nantinya. Dan aku juga yakin Mamamu ingin kamu bahagia, makanya dia mencarikan calon yang terbaik untukmu. Yah, sekarang tinggal keberanian kamu untuk mengungkapkannya kepada Mamamu.” Ratih memberikan saran yang menguatkanku untuk terus terang kepada Mama.
“Jadi maksud kamu, aku harus terus terag kepada mama?”
“Ya, itu satu-satunya jalan sebelum kamu terlambat dalam menentukan keputusan. Jika nanti kamu sudah memberitahukan kepada Mamamu, mungkin akan ada jalan lain yang akan disarankan Mamamu nantinya?”Ratih melanjutkan sarannya.
“Terima kasih ya Tih, aku sekarang lega setelah menumpahkan semuanya keadamu. Terima kasih sarannya, insya Allah aku akan memberi tahu kepada Mama secepatnya.”
“Begitu donk, oh ya kapan kamu ke Kota Kembang lagi, apa kamu tidak kangen dengan kita-kita? Apa kamu ga rindu dengan makan siomay bersama anak-anak di Sabuga?”
“Insya Allah kalau ada kesempatan aku akan datang ke Kota Kembang, aku kangen sama kanu dan teman-teman yang lainnya.”
“Aku tunggu ya. Masih ada yang mau kamu curhatin lagi?” Ratih bertanya dengan nada sedikit meledekku.
“Aku rasa sudah cukup, tapi nanti kalau aku butuh kamu, aku boleh menelpon kan?”
“Ness, kamu itu sahabat terbaikku. Tak ada kata tidak boleh untukmu, aku siap kapanpun kamu butuh. Hubungi aja, asal pulsa kamu banyak kalau kamu punya pulsa pati dimarahin operator..Heeheee”, Ratih membuatku tersenyum. “Ya sudah, aku mau siap-siap nih, kamu hari ini ngajar kan? Aku mau berangkat ke sekolah.” Ratih melanjutkan
“Aku sudah di sekolah kok,”, Jawabku enteng
“Busssseeettt, jam segini udah sampai di sekolah. Selamat anda akan menjadi guru teladan yang akan di panggil Presiden di akhir tahun nanti… Hahaha.. Ya sudah ya,.. Assalamualaikum.” Ratih menutup pembicaraan dengan tawa khasnya.
“Waalaikum salam”, jawabku sambil menutup telepon.
Perasaanku sedikit tenang setelah menelepon Ratih, nanti aku akan langsung membicarakan apa yang disarankan Ratih kepadaku. Aku sudah tidak sabar untuk langsung bertemu dengan Mama.
000000000
Siang yang lumayan menyengat di Kota Batiah, tidak seperti siang-siang yang lalu. Matahari seperti membakar permukaan bumi. Entah kenapa tiba-tiba matahari begitu terik di siang ini. Aku berjalan meninggalkan sekolah, menuju sekolah Mama untuk menjemputnya. Ada sedikit ketakutan menghantui perasaanku, aku takut untuk mengatakan tentang perasaanku kepada Mama. Tapi saran dari Ratih telah menguatkan keinginan untuk memberitahukan kepada Mama apa yang kurasakan.
Aku melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa saat memasuki halaman sekolah tempat Mama mengajar, aku langsung menuju ruang guru dimana sudah Mama sudah berdiri di luar menyambutku bersama Dimas. Aku ingin langsung bicara kepada Mama, namun aku tak mampu untuk bicara, karena kulihat raut wajah Mama begitu letih. Ah, tak sanggup aku menambah beban Mama siang ini.
Aku langsung mengajak Mama untuk Pulang, aku membawakan semua barang bawaan Mama. Kami bertiga langsung berjalan menuju rumah. Tak ada percakapan yang berarti selama perjalanan, Mama lebih banyak diam. Akupun tak berani bertanya ada apa dengan Mama. Aku hanya menggoda Dimas agar Mama bereaksi namun tak ada reaksi dari Mama, Mama kelihatan sibuk dengan pikirannya. Aku jadi ingin tahu apa yang Mama pikirkan tapi tak berani mengungkapkan niatku.
Sesampai di rumah, Mama langsung masuk ke dalam kamarnya. Akupun langsung menuju kamarku, kelihatannya niatku untuk mengutarakan perasaanku mesti tertunda dulu. Tak apalah, masih banyak waktu bagiku untuk menyampaikan kepada Mama. Aku ingin beristirahat dulu, aku begitu lelah hari ini. Mungkin karena panasnya Kota Batiah siang ini. Akupun merebahkan diri dan langsung terlelap di tempat tidurku.
000000
Pagi hari memang menyejukkan hati, seperti pagi ini yang begitu indah. Suara Ayam jago yang membagunkan seluruh manusia di setiap pagi tanpa peduli dengan orang-orang malas yang tak mau bangun pagi. Aku masih duduk di sajadah setelah membaca Al-qur’an, aku belum mau beranjak untuk mengerjakan kegiatan lainnya di pagi ini. Saat aku akan membuka mukena, terdengar suara Mama memanggilku dari luar. Aku langsung membuka mukena dan sedikit berlari ke arah pintu.
Mama masih memakai mukena saat aku membukakan pintu utuknya, Mama langsung masuk ke dalam kamarku. Mama melihat kea rah sajadah yang belum kubereskan, melihat ke sekeliling seperti mencari sesuatu, namun kembali melihat ke arahku dan berkata, “Nesh, kamu belum memberikan jawaban lamaran yang kemarin. Apakah kamu sudah punya jawabannya?”
Pertanyaan mama membuatku sedikit kaget, air mukaku langsung berubah. Kenapa Mama menanyakannya sepagi ini? Walaupun aku ingin mengatakan perasaanku secepatnya namun aku tidak menyangka Mama akan menanyakannya di pagi ini.
“Nesh, kamu sudah punya jawabannya?” Mama kembali bertanya dengan muka lebih serius.
“Ma, aku sudah punya jawabanya. Kemarin aku sebenarnya kau akan mengatakannya kepada Mama, tapi aku lihat Mama sedang banyak pikiran makanya ku tunda dulu untuk mengatakannnya.” Aku langsung menjelaskan kepada Mama.
“Oh… Kemarin memang lagi banyak pikiran, termasuk masalah ini”, jawab Mama dengan santai. “Jadi jawaban atas lamaran itu?” mama melanjutkan pertanyaannya.
“Ma, aku saying sama Mama. Aku tidak ingin mengecewakan Mama, aku tahu Mama telah memilihkan calon yang terbaik. Sekarang aku serahkan semuanya kepada Mama”, aku tak sanggup untuk mengutarakan isi hati yang sebenarnya.
“Apa kamu benar-benar menyerahkan semuanya kepada Mama? Mama lihat ada satu hal yang kamu sembunyikan. Kamu serius dengan ucapanmu?”Mama mempertanyakan keputusanku.
“Aku…aku..” Aku bicara dengan terbata-bata dan keluarlah air mata yang sudah tak tertahankan, aku hanya bisa menangis. Mama langsung memelukku, mama menenangkanku.
“Mama tahu, sebenarnya kamu tidak bisa menerima pilihan Mama kan? Kamu jujur saja Nesh, kamu itu anak Mama. Mama tahu apa yang ada di pikiran kamu. Kamu jujur pada Mama ya Nak.”
“Ma, aku saying Mama. Aku ikut apapun keputusan Mama. Mama yang telah membuatku seperti ini. Mama segalanya bagiku, jika memang itu yang terbaik menurut Mama akan kulakukan.” Jawabku sambil terisak-isak.
“Tidak anakku, Mama tidak akan memaksamu. Kalau kamu tidak menyukainya,Mama takkan memaksa. Biarlah nanti ada pria yang lebih baik untukmu. Sekarang kamu lupakan dulu semuanya. Kamu kembali seperti semula, kamu tidak usah memikirkan masalah ini. Biar Mama yang mengatakannya kepada keluarga Pak Anto.”
“Ma, maafkan aku…Aku saying Mama” tangisku makin menjadi
“Ya Nesh.. Mama juga saying kamu.. Maafkan Mama juga” Mama menatapku dengan penuh kasih saying.
Pagi ini semuanya terselesaikan, akhirnya aku bisa mengutarakan isi hatiku kepada Mama dan Mamapun mengerti dengan apa yang kupikirkan. Aku semakin saying sama Mama, Mama adalah idola bagiku. Wanita yang tangguh yang menyayangi keluarganya, sangat menyayangi.
000000
Siang ini menjadi siang indah, tak ada lagi beban berat di pundak ini. Saat mengajar semuanya berjalan dengan lancer, semua murid menatapku dengan heran karena perbedaan antara hari ini dengan hari kemarin sangat terasa. Mungkin mereka tahu kalau aku kemarin memang lagi memikirkan satu hal yangmembuatku sedikit berubah menjadi pemurung.
Aku jadi ingat saat seorang murid memujiku, dia bilang aku cantik hari ini. Lebih cantik dari hari sebelumnya. Ada-ada saja, padahal tak ada yang berbeda hari ini dengan dandananku. Seperti biasa, pakaianku tidak terlalu mahal dan aku juga tidak memakai make up namun hati memang tak bisa dibohongi, aku bergitu bahagia hari ini.
Jadwal mengajarku hari ini sudah selesai, masih ada waktu beberapa jam lagi untuk menjemput Mama di sekolahnya. Aku duduk di ruang guru, sambil memainkan ponselku. Aku Cuma melihat-lihat beberapa pesan yang lama, kadang aku tertawa membaca beberapa pesan yang ada di kotak masuk.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi ponselku, bunyi sebuah pesan masuk. Aku langsung membuka pesan baru tersebut. Nomor yang belum kukenal, belum tersimpan di buku telepon. Aku buka,

Text Box: Assalamualaikum<br />Hai Nesha, apa kabar?<br />Lagi apa? Semoga aku tidak mengganggumu hari ini<br />--- Kurniawan---

 

Darahku bergetar, ada suatu rasa yang tak bisa kujelaskan terasa di dada ini. Aku mencoba untuk menetralkan perasaanku. Aku mencoba untuk membalasnya. Aku mecoba menulis, berkali-kali aku menulisnya dan berkali-kali pula aku menghapus tulisan yang sudah kutulis. Entah kenapa aku bisa seaneh ini hanya untuk membalas sms seorang pria. Aku kembali menenangkan hati ini, entah ini perasaan senang atau apa. Sekali lagi kutenangkan dan akhirnya aku bisa menulis sms yang kuanggap wajar

Text Box: Waalaikumsalam<br />Alhamdulillah baik?<br />Aku baru selesai mengajar, tidak kamu tidak mengganggu kok. Kok bisa tau nomorku?

 

Aku langsung mengirimkannya. Aku menyimpan nomornya di buku teleponku kemudian aku taruh ponsel di dalam tasku, aku merasakan suatu perasaan yang sangat senang. Ada apa ini? Apa aku mulai menyukai Kurniawan? Atau ini perasaan lain lagi? Aku belum penah merasakan perasaan yang seperti ini. Lagi-lagi aku bingung.
Sekitar 15 menit setelah aku mengirimkan sms balasan tadi, ponselku kembali berbunyi. Seperti yang kuduga, balasan dari Kurniawan.

Text Box: Tidak susah untukku mencari nomormu, karena banyak teman yang tahu nomormu.<br />Syukurlah aku tidak menggangu, aku Cuma mencoba membuktikan kalau ini benar nomormu, itu saja.<br />Oya, lain kali aku boleh menelponmu kan?<br />Yah, itu juga kalau diperbolehkan.

 

Langsung saja kujawab

Text Box: Terserah kamu saja.. Kalau aku tidak ada kegiatan insya Allah aku angkat, tapi jangan salahkan aku jika nanti tak kuangkat karena mungkin saja aku lagi sibuk.

 

Aku tersenyum saat membaca kembali balasan sms terakhir yang kukirimkan. Aku masih belum mengerti kenapa aku begitu senang dengan keadaan sekarang ini. Apakah aku mulai jatuh hati kepadanya? Ah tidak, buru-buru kutepis perasaan yang muncul. Aku takkan mudah jatu hati kepada seorang pria.
0000

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *