Neesha – Part.1

Mau posting sebuah cerita ah.. sok atuh di baca, kalau berminat
Satu
Kicauan burung dipagi ini terasa begitu indah menemani perjalananku menuju sekolah tercinta. Hari pertama menjadi seorang guru, hari yang kunantikan setelah sebelumnya menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Kembang. Mencurahkan semua perhatian untuk membagi ilmu yang kupunya dengan murid-murid yang akan kutemui nanti. Tak sabar menunggu datangnya hari ini, walau sebelumnya di kota Kembang aku juga pernah menjadi guru magang di salah satu sekolah. Kali ini rasanya berbeda, aku merasakan suatu keinginan yang benar-benar menggebu di hati ini. Mungkin ini yang namanya perasaan bahagia, bahagia karena aku bisa mengabdi di kampun         g halamanku. Kota Batiah, kota yang asri, memang tak jauh berbeda dengan kota Kembang. Suasananya yang sejuk membuat kita tak pernah lelah dalam melakukan rangkaian aktifitas yang melelahkan. Semuanya terasa menyenangkan dengan cuaca yang tak terlalu menyengat. Ditambah lagi dengan masyarakat yang sangat bersahabat. Masyarakat yang selalu menebarkan senyuman indahnya kepada siapapun yang mereka temui dimanapun berjumpa.
Yayasan Pendidikan Taman Surga, namanya begitu indah di telinga. Di sinilah aku akan membagi ilmu yang kuperoleh setelah 4 tahun bergulat dengan kuliah, dosen dan tugas yang kadang membuat otak tak berhenti bekeja. Masa-masa yang indah, walau terkadang kehidupan sedikit tak teratur. Berada jauh dari orang tua memang membuatku harus pintar-pintar membagi waktu, kuliah-istirahat-dan bercanda dengan para sahabat. Ah, semuanya begitu indah dan tak ingin berlalu begitu saja. Sekarang aku ingin mengabdi memberikan semua ilmu yang kupunya untuk anak-anak nantinya.
Aku masuk ke dalam lingkungan Yayasan Pendidikan Taman Surga. Sesuai dengan namanya, benar-benar tempat yang indah. Rapi, semuanya serba tertata dengan indahnya. Ada pohon yang rindang, ada taman bunga yang sangat indah. Seandainya kali ini aku dating bukan untuk menjadi pengajar, pastilah akan ku petik sebuah mawar yang ada di sana. Aku langsung mempercepat langkah, aku menuju pos satpam untuk menanyakan dimana letak ruang kepala sekolah. Kulihat seorang bapak dengan pakaian satpam lengkap dengan pentungannya. Sedikir aneh memang, kenapa mesti ada pentungannya padahal ini kan sekolahan. Ah, sudahlah tak perlu juga untuk dibahas. Aku mendekat kepada pak satpam dan bertanya
“Assalamualaikum Pak, Boleh numpang Tanya. Ruangan Kepala Sekolahnya sebelah mana ya?”
“Waalaikum salam. Adik ini ada keperluan apa dengan kepala sekolah?”, kata Bapak itu dengan suara yang sangat lembut. Sangat kontras dengan mukanya yang kalau boleh dibilang tidak terlalu bersahabat.
“Maaf pak, saya guru baru yang kemarin dapat panggilan dari Kepala Sekolah untuk mengajarkan IPA untuk tingkat SMP”, jawabku dengan singkat
“Oh… Kalau begitu biar saya antar Bu, tadi saya pikir tadi Ibu adalah kakak dari salah seorang siswa, habis masih terlalu muda untuk menjadi seorang guru.. He..” si Bapak meralat panggilannya padaku.
“Ah, tak apa Pak, umur saya memang belum terlalu pantas untuk Bapak panggil ibu. Saya masih seperti anak berumur 19 tahun kan Pak” Kataku di sahut tawa si Bapak Satpam yang benar-benar membuatku tersenyum bahagia.
“Ayo Bu ikuti saya!” Bapak satpam kembali mengajakku untuk mengikuti langkahnya menuju ruang kepala sekolah
Aku mengikuti si Bapak Satpam tanpa banyak Tanya, karena memang tak ada pertanyaan yang terlintas di kepala ini yang membuat rasa ingin tahu memuncak dan menumpahkannya pada Pak Satpam. Aku hanya melihat sekeliling sambil bergumam dan bersyukur aku bisa diterima menjadi salah satu pengajar di salah satu Yayasan pendidikan terbaik di Kota Batiah.
“Ayo bu, belok sini”, Bapak satpam membuatku terkejut dari lamunan karena kata-katanya. “Sebentar lagi sampai, kita tinggal lurus dan di depan sudah terlihat ruangan Bapak Kepala Sekolah”, lanjut Pak Satpam
Akhirnya sampai di depan pintu ruangan Kepala Sekolah. Ruangannya berada di pojok kanan dari sekolah. Entah kenapa sejauh yang kutahu, ruangan kepala sekolah selalu berada mencolok dari ruangan yang lainnya. Aku melihat tulisan yang tertera di atas pintu, DRS. H. Ahmad Zein dibawahnya tertulis Kepala Sekolah.
“Saya Cuma bisa mengantar sampai di sini bu, saya mesti kembali ke pos. Nanti bisa-bisa saya dimarahi kalau meninggalkan pos terlalu lama”, Pak Satpam pamit
“Oh, ya. Makasih banyak ya pak. Saya sudah di antar sampai sini.”, jawabku
“Ah.. Tak apa. Nanti kalau butuh sesuatu nanti panggil saya saja, saya selalu siap sedia di pos” Kata Pak Satpam sambil nyengir dan berlalu meninggalkanku yang bersiap berjumpa dengan sang kepala sekolah.
Sebelum masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah aku menghirup nafas dalam-dalam dan sedikit mengatur nafas agar tak terlihat canggung nantinya di depan sang Kepala Sekolah. Aku mengetuk pintu yang sebenarnya dari tadi sedikit terbuka. Aku mendengar suara seorang Bapak-Bapak dari dalam yang menyuruh masuk. Aku membuka pintu sedikit lebih lebar dan masuk ke dalam ruangan. Kulihat sekeliling ruangan, banyak piala yang tertara rapi di sebuah lemari. Pastilah itu piala yang di raih siswa yang berprestasi. Benar-benar sekolah yang mengagumkan, aku bahagia bisa menjadi salah satu pengajar nantinya di sekolah ini. Kulihat seorang Bapak kira – kira berusia 50an duduk di belakang meja dan aku berjalan kea rah mejanya.
“Silahkan duduk”, katanya kepadaku
“Terima kasih Pak”
“Kita langsung saja, saya sudah menunggu anda. Tunggu sebentar saya ambil file anda terlebih dahulu”, Bapak itu mengambil sebuah file dari tumpukan file-file di mejanya. Kulihat fotoku ada di file yang diambilnya.
“Saudari Neesha Nur Ramadhani, lulusan Universitas Perguruan Indonesia dengan IPK 3.23. Jurusan Fisika. Hasil tes mengagumkan, paling tinggi dari yang lainnya. Anda benar-benar calon yang paling kami butuhkan.” Kata Bapak itu sambil menatapku
“Terima kasih pak”, Jawabku sedikit tersipu
“Saya DRS. H. Ahmad Zein, Kepala Sekolah Yayasan Pendidikan Taman Surga. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah swasta terfavorit di kota ini. Saya bukan orang yang suka banya bicara, saya hanya ingin mengucapkan selamat bergabung menjadi staf pengajar di sekolah ini. Hari ini anda mulai mengajar di kelas VII-3 jam pelajaran ke dua. Nanti salah seorang guru akan saya suruh untuk mengantarkan anda ke kelas. Oh.. ya sebelumnya apakah ada sesuatu yang anda ingin tanyakan?
“Tidak pak, saya Cuma mau mengucapkan terima kasih karena saya di beri kesempatan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak nantinya. Sekali lagi saya ucapakan terima kasih Pak..”
“Ok, anda tunggu sebentar. Saya panggilkan salah seorang guru yang akan mengantarkan anda ke kelas anda.” Pak Zein, langsung menggunakan telepon yang ada di sudut mejanya. Sepertinya dia menelpon seseorang. Lalu dia berujar “Tunggu sebentar, guru yang saya maksud sedang dalam perjalanan”
Tak sampai dua menit terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan. Pak Zein langsung menyuruh tamu yang diluar masuk dan langsung berkata kepadanya, “Bu Indah, tolong Ibu antarkan Ibu Neesha ke kelas VII-3, mulai sekarang dia merupakan salah satu pengajar di sekolah kita. Nanti silahkan saling mengenal.”
“Baik Pak, Ayo Bu Neesha saya antarkan ke kelasnya” Wanita yang dipanggil Ibu Indah langsung menatap ke arahku.
Aku bangkit dari duduk dan berkata pada Bapak Zein “Sekalai lagi saya ucapkan terima kasih Pak” Pak Zein Cuma mengangguk dan terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Aku langsung mengikuti langkah Ibu Indah.
Aku berjalan di samping Ibu Indah. Ibu Indah sosok yang sangat anggun dengan jilbab merahnya, lipstick yang tipis dengan polesan yang natural. Sangat cantik..
“Kenalkan nama saya Indah, saya mengajar Bahasa Indonesia. Saya sudah 4 tahun di sekolah ini. Kamu baru lulus ya?”Ibu Indah mulai mengakrabkan diri denganku
“Saya Neesha bu, Iya saya baru lulus tahun ini. Mohon bimbingannya ya!”
“Ah.. Tak usah panggil Ibu, panggil kakak saja. Umur saya baru 27 jadi saya rasa tidak terlalu jauh dibandingkan umur kamu. Memangnya umur kamu berapa?” Tanya Ibu Indah
“Saya baru 22 tahun bu eh. Kak.. hehehe.” Aku sedikit ragu saat memanggil Ibu indah dengan sebutan kakak.
“Hem.. nanti kita bisa lebih banyak mengobrol, supaya kita bisa lebih dekat lagi. Kelas kamu ada di depan. Kamu mau saya masuk dulu untuk memperkenalkan kamu atau kamu mau langsung masuk sendiri?”
“Bagusnya gimana Kak?” Tanyaku padanya
“Bagusnya kamu saya perkenalkan dulu, lalu setelah itu kamu yang meperkenalkan diri lebih lanjut. Gimana?” Dia malah menanyakan kembali kepadaku
“Ya sudah begitu saja kak”
Sedikit terdengar suara gaduh dari dalam kelas yang akan aku ajar. Seperti biasa, yang namanya murid pasti akan berisik jika tak ada guru di dalam kelas. Aku dan Kak Indah langsung masuk ke dalam kelas, dan dengan sekejap seluruh kelas terdiam tanpa ada yang berbuat kegaduhan walau itu hanya berbisik-bisik.
Ibu Indah langsung berdiri di depan semua murid dan memperkenalkanku pada semua murid. Lalu tibalah saatnya bagiku menghadapi pengalaman pertamaku sebagai guru tetap di sekolah ini. Ibu Indah lalu berjalan ke arahku sambil berkata “Semoga Berhasil” dia lalu berlalu meninggalkan kelas dengan anggunnya.
oooooooooooo
Hari pertama mejadi seorang guru, tak terlalu buruk memang karena tadi aku belum mulai berbagi ilmu dengan murid-muridku. Hari pertama memang saatnya perkenalan dengan seluruh anggota kelas. Mereka semua murid-murid yang antusias. Aku jadi ingat dengan salah seorang murid bernama Dhani yang menanyakan berapa umurku, saat ku jawab 22 dia malah bilang kalau dia mau aku menunggu dia dewasa karena dia sangat menyukaiku dan ingin menikahiku. Seluruh kelas tertawa karena kata-katanya. Aku hanya tersenyum denga tingkah polah mereka. Belum lagi dengan beberapa murid lain yang tak kalah menggelikan. Seperti Ina yang hanya terdiam menatapku, seperti punya dunia lain yang belum bisa kuselami. Hmm.. Suatu saat akan kuselami apa yang dia pikirkan.
Aku bersemangat untuk mengajar di sekolah itu, langkah awal untuk masa depanku nantinya. Menjadi seperti mama yang selalu menjadi guru favorit di sekolahnya. Sekarang saatnya menjemput mama ke tempat dia mengajar
000000000
Sekolah tempat mama mengajar adalah sekolah dimana aku pernah menjadi salah satu murid di sekolah itu. Sekolah Negeri yang punya prestasi yang juga membanggakan. Lagi-lagi kalau dating ke sekolah ini aku pasti bernostalgia dengan bangunan sekolah ini yang telah direnovasi menjadi lebih bagus. Kalau dulu waktu aku menjadi salah satu murid, sekolah di bagi di beberapa tempat, tapi sekarang sekolahnya sudah bertingkat sama dengan sekolah Yayasa Pendidikan Taman Surga.
Aku masuk ke dalam lingkungan sekolah, sedikit tersenyum pada Pak satpam yang ada di Pos. Mereka sudah kenal dengan wajahku, karena sebelum diterima sebagai guru di Taman Surga aku selalu mejadi Baby Sitternya mama, mengantarkan dan menjemput mama adalah tugasku setiap harinya. Aku langsung menuju ruang guru, kulihat sudah tak ada lagi murid yang berkeliaran itu artinya mama sudah ada di ruang guru.
Ruangan yang berada di tengah-tengah menjadi tujuanku selanjutnya, ruangan yang memanjang dari arah depan ke belakang tempat berkumpulnya para guru. Aku langsung memasuki ruangan itu dan tak terlihat siapapun. Ruangannya kosong, tak ada satu orangpun di dalam ruangan guru, ada apa ini?? Aku berencana untuk menanyakan ke pada satpam dimana keberadaan mama.. Namun saat aku mulai melangkah, terdengar suara seorang wanita dari belakang memanggil namaku.
“Neesha…..”
Aku menoleh dan kulihat Mama di dampingi teman-temannya berkumpul membentuk setengah lingkaran. Mama berada di tengah memegang sebuah Black Forest, seorang teman di sampingnya memegang piring lengkap dengan pemotong pisaunnya. Tak jauh dari mereka kulihat adikku yang paling kecil, Dimas berlari ke arahku dan langsung memelukku. Air mataku keluar tak tertahankan. Aku menangis, aku bahagia. Inilah kebahagian yang kurasakan. Kecintaan mama kepadaku dan teman-temannya yang juga adalah guru-guruku dulu. Mama meletakkan kue yang di pegangnya di meja dan berlari kearahku.
“Selamat ya Nesh..” Mama memelukku dan dia menangis tak tertahankan. “Sekarang Anak Gadis Mama yang cengeng sudah menjadi seorang guru seperti Mama, Mama Bahagia”
Aku membalas pelukan mama, dengan tangis yang juga tak tertahankan aku berkata “Terima kasih Mama.. Aku sangat bahagia hari ini.. Aku mencintaimu ma.. Inilah hasil didikan mama. AKu selalu ingin membahagiakan Mama, dari dulu sekarang atau nanti”
“Terima kasih ya nak, Mama sayang sama kamu”
“Aku juga sayang sama Mama”
“Dimas gimana?”, dimas yang sedari tadi memeluk kakiku berkata, nampaknya tidak mau kalah untuk disayang.
“Kakak saying Dimas, Mama juga kok” Jawabku sambil meliat ke arah Mama yang telah melepaskan pelukannya dariku.
“Yang benar?” Dimas kelihatan ragu sambil melepaskan pelukannya dari kakiku
“Iya.. Dimas ga percaya?” Aku jongkok agar sejajar dengannya dan memeluknya
“Hem.. Kalau gitu, kuenya dipotong dong Kak. Dimas sudah nunggu dari tadi” Dimas menunjuk ke arah kue yang tadi di pegang Mama.
Semua yang ada di ruangan guru tertawa karena kata-kata Dimas. Semua teman-teman mama bergantian memberikan selamat padaku. Semuanya guru yang ku kenal. Semuanya menangis saat memberikan selamat. Aku tak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena berkat mereka juga aku bisa menjadi seorang guru seperti yang mereka jalani saat ini. Ada yang memberikan tips-tips mengajar, menhadapi murid bandel sampai ada yang menanyakan kapan aku menikah. Hah.. Pertanyaan yang membuatku bingun untuk menjawabnya. Dan semua orang menoleh padaku saat pertanyaan itu terlontar, aku hanya terdiam dan melirik mama dan mama langsung menyuruh teman-temannya menikmati kue yang telah terhidang.
Hidup memang Indah, tak terasa telah kulalui 22 tahun kehidupanku dan sekarang sudah saatnya aku mengabdikan diri untuk orang-orang yang kusayang dan semoga semua bisa selalu bahagia dengan apa yang terjadi.
000000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *