Ingin Lepas dari bayangnya..

Kaget juga saat BuOk bilang ke gue tadi saat dia nikmatin ” sanjai balado” kiriman dari Ibu.
BuOk : Loe jualan keripik ya her?
Gue : ga kok bu, itu kiriman dari nyokap gue, tante gue baru datang dari kampung.
BuOk : oo… Eh, loe ponakannya “Bos Besar” ya? Kok ga mirip ya? Gantengan “Bos Besar” dari loe, dia lebih putih. Pokoknya keren banget deh.
Gue : He.. “Bos Besar”?? Siapa Bu? “Bos Besar” yang mana ya??
BuOk : Halah.. ga usah pura-pura deh loe, ntar kualat loe..
Gue cuma bisa masun-masun ga jelas, takut nantinya bakalan lebih merebak.. Ah.. kenapa dia bisa tahu ya??

Kalau BuOk udah tahu, pastinya semua kantor udah tahu, berkah atau kutukankah (kayak lagu sheila on 7, berkah atau kutukan bila kau tak lagi di sini..hehehe). Ga tau mesti bahagia, girang, sedih, takut atau mungkin marah? Entahlah.. Gue ga bisa menentukan apa yang gue rasa. Gue cuma deg2 ga jelas. takut sesuatu terjadi, apakah itu bahaya ataukah kebahagian?

Dari dulu gue berusaha menutup jati diri ini, kalau ada yang nanya pertanyaan kayak gitu, gue cuma bilang saudara jauh kok. Gue ga ingin nama bos besar jelek gara-gara kelakuan gue yang mungkin akan menjatuhkan dirinya. Sempat dulu seorang staff bilang sama temannya saat input gaji gue ” Ah.. gaji itu tergantung siapa bawa”.

Heran, kenapa mesti dipersalahkan? kenapa yang dilihat siapa yang berdiri tegak di belakang gue. Kenapa ga lihat siapa guenya sih? Udah bosan gue berada di bawah bayangan ini. Tapi bagaimana caranya? Jika dulu saat masih di kampung, orang-orang pada bilang, “enak ya jadi ponakannya “Bos Besar”, apa-apa bisa dapat”. Sempat tak mau mendengarkan apa yang mereka bilang, sempat tak peduli tapi apa?? Gue masih di bawah bayang-bayang itu. Dan semakin hari gue merasa semakin tak bisa lepas.. Ya Allah..

Gue cuma ingin satu, jika kalian merasa gue jadi masalah jangan bawa-bawa nama “Bos Besar”, pecat aja gue dan seandainya gue berlaku baik itu karena didikan “Bos Besar”. Sekali lagi gue mohon, gue adalah gue bukan “Bos Besar” yang mesti dihormati, bersikap wajarlah.. Jika memang tak suka hapus, jika suka biarkanlah ku berkarya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *